
Emping melinjo masih menjadi camilan favorit untuk suguhan tamu saat Lebaran. Buktinya, memasuki pekan kedua bulan Ramadan, stok emping melinjo milik sejumlah pedagang di Pasar Legi Ponorogo mulai menipis karena diborong konsumen.
Salah satu pedagang, Didin, mengungkapkan sejak awal puasa sudah terjadi peningkatan permintaan. Menurutnya, banyak pembeli khawatir harga akan semakin mahal jika membeli mendekati Hari Raya Idulfitri.
“Awal puasa sudah ada kenaikan permintaan. Pembeli takut kalau beli mendekati Lebaran harganya lebih mahal, jadi sekarang sudah mulai borong,” ujar Didin.
Akibat tingginya permintaan tersebut, sejumlah pedagang mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan pembeli. Selain stok yang menipis, harga emping juga mengalami kenaikan signifikan.
“Kalau hari biasa sekitar Rp60 ribu per kilogram. Sekarang menjelang Lebaran sudah tembus Rp70 ribu sampai Rp85 ribu per kilogram, tergantung ukuran dan kualitasnya,” jelasnya.
Didin menambahkan, emping yang dijual terdiri dari emping asli dan campuran dengan ukuran lebih tipis. Menariknya, emping tipis justru banyak dicari konsumen karena dianggap lebih ringan dan tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan.
“Ada yang asli, ada juga yang campuran dan lebih tipis. Justru yang tipis ini banyak dicari karena katanya lebih aman untuk kesehatan,” imbuhnya.
Meski tergolong jajanan jadul, emping tetap menjadi camilan favorit untuk mengisi toples saat Hari Raya. Permintaan yang tinggi setiap Ramadan hingga menjelang Lebaran membuat emping selalu laris manis di pasaran.
Sementara itu, selain emping, sejumlah bahan kebutuhan pokok lain yang mulai merangkak naik adalah gula pasir dan minyak goreng.



