
Cerita Rifkia Warga Jalan Manggis Keniten Ponorogo yang Tinggal di NTT (Foto: Rifkia)
Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026). Akibat gempa tersebut, puluhan orang dilaporkan meninggal dunia, ratusan orang mengalami luka-luka dan mendapat perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan setempat. Selain itu, ratusan rumah dan sejumlah fasilitas umum dilaporkan mengalami kerusakan parah.
Rifkia Hikmawati, warga Ponorogo yang sudah lama tinggal di Polikapa Mbay 1, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menceritakan kondisi terkini setelah wilayah tempat tinggalnya diguncang gempa. Hingga Senin malam, gempa susulan masih terjadi meski skalanya relatif kecil.
Menurut Rifkia, akses masuk bagi relawan yang hendak membawa bantuan masih sangat terbatas lantaran sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan akibat gempa. Kondisi tersebut membuat hanya kendaraan berukuran kecil yang dapat masuk ke sejumlah wilayah terdampak.
“Gempa susulan sampai Senin malam masih terjadi, tetapi skalanya kecil. Relawan yang masuk membawa bantuan juga sangat terbatas karena akses jalan rusak, sehingga hanya mobil kecil yang bisa masuk,” ujar Rifkia.
Untuk kondisi kelistrikan, menurutnya sudah kembali normal sejak Minggu (16/8/2026). Begitu pula dengan akses internet yang sudah dapat digunakan kembali. Namun, persoalan air bersih dan bahan makanan masih menjadi kendala bagi masyarakat terdampak.
Jaringan air PDAM mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. Bahkan, setiap orang disebut hanya mendapatkan sekitar dua gelas air minum dalam sehari, sementara kondisi cuaca sedang panas ekstrem.
Untuk kebutuhan makanan, bantuan yang diterima sejauh ini masih terbatas berupa mi instan. Kondisi tersebut membuat Rifkia dan keluarganya sementara mengandalkan stok bahan makanan yang tersedia di dapur.
“Yang paling sulit sekarang air bersih dan makanan. Jaringan PDAM rusak, sehingga setiap orang hanya mendapatkan sekitar dua gelas air minum per hari. Untuk makanan baru ada bantuan mi instan, jadi sementara kami mengandalkan stok yang ada di dapur,” katanya.
Rifkia mengaku dirinya bersama keluarga masih bertahan di rumah karena bangunan hanya mengalami retak-retak. Namun, sejumlah warga lainnya terpaksa mengungsi karena rumah mereka mengalami kerusakan parah hingga rata dengan tanah.
Rifkia tinggal di NTT setelah menikah dengan warga Flores. Meski telah lama menetap di NTT, dirinya merupakan warga asli Jalan Manggis, Kelurahan Keniten, Ponorogo.



