
Dok Gemasurya
Permintaan telur ayam dari luar daerah ke Ponorogo belakangan ini mengalami peningkatan. Bukan berarti tidak laku di pasar lokal, melainkan karena permintaan dari luar wilayah Ponorogo cenderung meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Ahmad Sarbini, salah satu peternak ayam petelur asal Mlarak, mengungkapkan sejumlah wilayah yang meminta kiriman dari Kota Reog antara lain Pacitan, Trenggalek, Blora (Jawa Tengah), hingga Jakarta. “Rata-rata kebutuhan mereka naik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana serapannya sudah mencapai 60 hingga 70 persen,” ungkapnya.
Adapun untuk Kabupaten Ponorogo, serapan MBG dinilai masih kecil. Karena itu, meski permintaan luar daerah meningkat, hal tersebut tidak memengaruhi stok lokal. Namun, Sarbini mengakui tetap ada pengaruh terhadap harga telur ayam yang bertahan di angka Rp27.000 per kilogram di tingkat kandang sejak dua pekan terakhir.
“Kalaupun ada penurunan, biasanya terjadi pada hari Sabtu dan Minggu. Itupun tipis, hanya sekitar Rp200 hingga Rp500 per kilogramnya,” lanjutnya.
Ia memprediksi, dengan berjalannya program MBG, kemungkinan harga telur turun di bawah Rp25.000 per kilogram sangat kecil. “Yang terjadi justru akan ada kenaikan lagi di akhir tahun seiring dengan Natal, Tahun Baru, serta Lebaran,” pungkasnya.



