
Permintaan Empon Empon Menurun (Foto: Ilustrasi)
Musim bediding yang melanda Kabupaten Ponorogo tahun ini ternyata tidak membawa berkah bagi pelaku usaha empon-empon. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika cuaca dingin mampu mendongkrak permintaan produk herbal seperti jahe, kunyit, dan temulawak, kali ini penjualan justru mengalami penurunan drastis. Bahkan, dalam dua bulan terakhir, permintaan empon-empon instan merosot hingga lebih dari 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Salah satu produsen empon-empon di Ponorogo, Wendi, mengaku kondisi tersebut sangat memengaruhi usahanya. Selama ini ia memproduksi berbagai jenis minuman herbal instan yang siap seduh, mulai dari jahe, kunyit, temulawak hingga wedang uwuh dan daun kelor. Produk-produknya tidak hanya dipasarkan di Ponorogo, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Namun, penurunan permintaan membuat volume penjualannya merosot tajam.
“Sudah sekitar dua bulan terakhir penjualan sangat sepi. Kalau biasanya saat musim dingin kami bisa menjual sekitar 500 bungkus empon-empon instan per hari, sekarang kurang dari 100 bungkus. Padahal produk kami dipasarkan tidak hanya di Ponorogo, tetapi juga ke berbagai daerah di Indonesia,” ujar Wendi.
Menurut Wendi, penyebab pasti turunnya permintaan belum diketahui. Namun, banyak pelanggan maupun pelaku usaha yang mengaitkannya dengan kondisi ekonomi yang sedang lesu sehingga daya beli masyarakat ikut menurun. Dampak penurunan penjualan juga dirasakan para petani pemasok bahan baku karena kebutuhan empon-empon dari produsen ikut berkurang. Akibatnya, harga berbagai komoditas empon-empon di tingkat petani mengalami penurunan cukup signifikan.
“Karena permintaan turun, kami juga mengurangi pembelian bahan baku dari petani. Dampaknya harga di tingkat petani ikut anjlok. Kunyit yang sebelumnya mencapai Rp30.000 sampai Rp35.000 per kilogram sekarang sekitar Rp20.000. Jahe kering yang dulu di atas Rp100.000 kini tinggal sekitar Rp65.000 per kilogram, sedangkan temulawak turun dari sekitar Rp15.000 menjadi Rp8.500 per kilogram,” kata Wendi.
Meski penjualan masih lesu, Wendi tetap mempertahankan usahanya dengan menyediakan berbagai pilihan produk herbal instan, termasuk wedang uwuh dan olahan daun kelor. Ia berharap kondisi perekonomian segera membaik sehingga permintaan empon-empon kembali meningkat dan harga hasil panen petani dapat kembali stabil.



