
Musim Hajatan Pernikahan, Orderan Perajin Hiasan Janur Alami Peningkatan (Foto: Edi)
Hiasan janur kuning dan kembang mayang masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi hajatan maupun pernikahan adat Jawa. Di balik keindahan rangkaian janur yang menghiasi pintu masuk rumah mempelai, tersimpan proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan, ketelitian, dan keterampilan khusus. Memasuki musim hajatan, permintaan dekorasi janur di Kabupaten Ponorogo pun meningkat. Bahkan, hasil karya para perajin lokal tidak hanya diminati masyarakat Ponorogo, tetapi juga dipesan hingga luar daerah.
Salah satu perajin janur asal Desa Ngiloh, Kecamatan Slahung, Edi Sucahyo, mengaku setiap pekan selalu menerima pesanan selama musim pernikahan berlangsung. Selain melayani pembuatan janur untuk wilayah Ponorogo, ia juga kerap menerima pesanan dari daerah lain seperti Kabupaten Madiun. Bersama dua orang pekerjanya, Edi melayani berbagai kebutuhan dekorasi tradisional, mulai dari penyediaan janur dan kelapa hingga pembuatan umbul-umbul janur, kembang mayang, serta plengkung bambu yang menjadi pelengkap dekorasi pelaminan.
“Alhamdulillah, selama musim hajatan ini setiap minggu selalu ada pesanan. Tidak hanya dari Ponorogo, tetapi juga dari Madiun dan daerah sekitarnya. Kami melayani pembuatan janur, kembang mayang, umbul-umbul, sampai plengkung bambu sesuai permintaan pelanggan,” ujar Edi Sucahyo.
Menurut Edi, pembuatan satu paket plengkung bambu membutuhkan waktu hingga dua hari karena seluruh proses masih dikerjakan secara manual. Tingkat kesulitan dan ukuran dekorasi juga memengaruhi lamanya proses pengerjaan. Sementara itu, harga satu paket dekorasi janur yang meliputi umbul-umbul, kembang mayang, plengkung, hingga paket gedang atau pisang dibanderol mulai ratusan ribu rupiah hingga sekitar Rp2,5 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan desain yang diinginkan pelanggan.
“Untuk membuat satu paket plengkung bambu bisa memakan waktu sekitar dua hari. Harganya bervariasi, mulai ratusan ribu sampai Rp2,5 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerapiannya. Meski pesanan sedang banyak, harga bahan baku seperti kelapa sampai sekarang masih relatif stabil,” kata Edi Sucahyo.
Meningkatnya permintaan dekorasi janur pada musim hajatan menjadi berkah tersendiri bagi para perajin. Selain menjaga kelestarian tradisi Jawa, usaha tersebut juga mampu memberikan tambahan penghasilan sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya.



