
Gunung Loreng Slahung Terbakar (Foto: Istimewa)
Sedikitnya 4,5 hektare kawasan hutan Perhutani di Petak 93 B RPH Slahung, BKPH Selatan, KPH Lawu DS, Gunung Loreng, Desa Caluk, Kecamatan Slahung, Ponorogo, terbakar pada Sabtu 22 Agustus 2026 sekitar pukul 13.30 WIB.
Kebakaran muncul di kawasan puncak yang dipenuhi semak belukar. Kondisi vegetasi yang mengering akibat musim kemarau membuat api dengan cepat menjalar dan meluas di kawasan hutan.
Sekretaris Desa Caluk, Kecamatan Slahung, Bambang Anggoro, mengatakan tim gabungan dari BPBD Ponorogo, Perhutani, TNI, dan Polri langsung diterjunkan setelah menerima laporan kebakaran. Proses pemadaman dilakukan secara manual karena medan yang cukup sulit dijangkau.
Menurutnya, petugas menggunakan metode gepyok serta membuat ilaran atau jalur pemisah vegetasi untuk menghentikan rambatan api. Upaya tersebut dilakukan hingga api berhasil dipadamkan pada Sabtu malam sekitar pukul 21.30 WIB.
“Pemadaman dilakukan secara manual dengan cara gepyok dan membuat ilaran untuk memutus rambatan api. Api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.30 WIB,” ujar Bambang.
Meski api telah berhasil dipadamkan, petugas pemadam kebakaran tetap berjaga di sekitar lokasi, terutama di sisi jalan. Langkah tersebut dilakukan karena kawasan hutan yang terbakar berada cukup dekat dengan lahan pekarangan milik penduduk.
Kondisi cuaca yang kering dan berangin juga menjadi perhatian petugas karena berpotensi membuat api kembali menjalar apabila masih terdapat bara yang belum sepenuhnya padam.
Bambang mengatakan, penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui. BPBD bersama Perhutani juga masih melakukan pemantauan terhadap kawasan terdampak untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Sejumlah pohon jati dan pinus di kawasan tersebut diketahui masih menyimpan bara. Karena itu, petugas tetap melakukan pengecekan sekaligus pemadaman lanjutan di sejumlah titik yang dinilai masih berpotensi terbakar.
“Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui. Kami bersama Perhutani masih terus memantau karena vegetasinya kering dan mudah terbakar. Beberapa pohon jati dan pinus juga masih menyimpan bara,” katanya.



