
2 Hektare Hutan Terbakar di Sambit (Foto: Isa)
Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda wilayah Kabupaten Ponorogo. Kali ini, si jago merah membakar kawasan hutan milik Perhutani di Desa Maguan, Kecamatan Sambit, dengan luas lahan yang terbakar kurang lebih dua hektare.
Kapolsek Sambit, AKP Muhammad Isa Latif, mengatakan titik api pertama kali terdeteksi melalui pantauan satelit Polda Jatim pada Jumat sekitar pukul 12.30 WIB. Setelah mendapatkan informasi tersebut, petugas gabungan langsung diterjunkan untuk melakukan pengecekan dan pemadaman.
“Api pertama kali terdeteksi dari pantauan satelit Polda Jatim. Petugas gabungan kemudian langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman,” ujar AKP Isa Latif.
Kebakaran tersebut terjadi di kawasan hutan Perhutani Petak 135D RPH Bungkal, BKPH Ponorogo Timur. Area yang terbakar didominasi tanaman jati dan albasia serta dipenuhi tumpukan daun dan serasah kering.
Petugas dari Polsek Sambit, BPBD, Perhutani hingga pihak pemerintah desa bersama-sama melakukan penanganan. Namun, proses pemadaman tidak mudah karena lokasi titik api cukup jauh dari permukiman warga, yakni sekitar 5 hingga 6 kilometer. Petugas juga harus berjalan kaki untuk mencapai kawasan yang terbakar.
Meski menghadapi kendala medan, upaya pemadaman akhirnya berhasil dilakukan. Api dapat dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 20.00 WIB sehingga tidak sampai meluas ke wilayah lain maupun mendekati permukiman warga.
AKP Isa Latif menyebut kebakaran diduga dipicu kondisi cuaca yang sangat panas. Teriknya matahari membuat tumpukan daun dan serasah kering mudah terbakar secara alami.
“Dugaan sementara, kebakaran dipicu cuaca ekstrem yang panas terik sehingga tumpukan daun serasah kering terbakar. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan pemukiman dalam kejadian ini,” katanya.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat, khususnya para petani yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan, agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga juga diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.
Petugas gabungan tetap melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat titik api baru maupun bara yang berpotensi kembali menyala.



