
Kawasan Wisata Gunung Bromo Ditutup karena Karhutla (Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
Penutupan kawasan wisata Gunung Bromo akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut berdampak pada usaha biro perjalanan atau travel agent, termasuk di Ponorogo. Sejumlah biro perjalanan terpaksa membatalkan pesanan wisatawan yang sebelumnya telah masuk beberapa bulan lalu. Bahkan, sebagian pelanggan harus mendapatkan pengembalian dana atau refund karena perjalanan menuju kawasan Bromo tidak dapat dilakukan.
Salah satu pengusaha biro perjalanan wisata di Ponorogo, Sabdo Firmanto, mengatakan pihaknya harus membatalkan sejumlah permintaan wisatawan yang telah menjadwalkan perjalanan ke Gunung Bromo. Keputusan tersebut diambil demi keselamatan wisatawan sekaligus mengikuti kebijakan penutupan kawasan wisata akibat karhutla.
“Memang ada beberapa permintaan wisata ke Bromo yang terpaksa kami cancel. Kami sampaikan kepada pelanggan bahwa kondisi di sana tidak memungkinkan karena ada penutupan untuk keamanan. Alhamdulillah, pelanggan bisa memahami kondisi tersebut,” ujar Sabdo.
Menurutnya, respons pelanggan cukup beragam. Sebagian memilih membatalkan perjalanan dan meminta pengembalian dana, sementara lainnya memilih menunda keberangkatan hingga kawasan wisata Gunung Bromo kembali dibuka. Kondisi tersebut membuat biro perjalanan harus menyesuaikan kembali jadwal serta rencana perjalanan yang telah disusun sebelumnya.
Beruntung, memasuki Agustus ini jumlah pesanan perjalanan wisata ke Gunung Bromo memang cenderung menurun. Sehingga dampak pembatalan tidak terlalu besar dibandingkan jika terjadi pada periode dengan tingkat permintaan wisata yang tinggi.
Meski demikian, Sabdo mengatakan pihaknya tetap berupaya memberikan solusi kepada wisatawan yang sudah terlanjur menjadwalkan perjalanan ke Bromo. Salah satunya dengan menawarkan destinasi wisata alternatif yang dinilai lebih aman, namun tetap memberikan pengalaman menarik bagi wisatawan.
“Kalau wisatawan sudah terlanjur menjadwalkan perjalanan bulan ini, kami tawarkan destinasi alternatif. Untuk yang suka wisata alam dan pegunungan, salah satunya bisa dialihkan ke Dieng. Jadi perjalanan tetap bisa berjalan dengan tujuan yang berbeda,” jelasnya.
Menurut Sabdo, kondisi seperti ini menjadi salah satu risiko yang harus dihadapi pelaku usaha biro perjalanan wisata. Penutupan destinasi akibat bencana bukan kali pertama memberikan dampak terhadap perjalanan wisata. Karena itu, pelaku usaha dituntut mampu beradaptasi dengan kondisi serta memberikan alternatif kepada pelanggan.
Ia berharap kondisi karhutla di kawasan Gunung Bromo segera teratasi sehingga kawasan wisata tersebut dapat kembali dibuka dan aktivitas perjalanan wisata kembali normal.



