
Harga Bagus, Petani di Sukorejo Coba Peruntungan dengan Bertanam Brambang (Foto: Tri Narmi)
Mahalnya harga bawang merah beberapa waktu terakhir membuat sejumlah petani di wilayah Sukorejo, Ponorogo, mencoba peruntungan dengan menanam brambang di lahan pertanian mereka. Beberapa petak lahan yang sebelumnya ditanami padi kini mulai disisipi tanaman bawang merah untuk melihat peluang hasil panennya.
Salah satu petani, Tri Narmi, mengatakan penanaman bawang merah masih sebatas percobaan sehingga lahan yang digunakan belum terlalu luas. Para petani di wilayah Sukorejo masih lebih banyak mempertahankan tanaman padi yang dinilai lebih cocok dengan kondisi lahan setempat dan perawatannya relatif lebih mudah.
“Ini masih percobaan, jadi lahan yang ditanami bawang merah belum banyak. Kami masih fokus menanam padi karena memang lebih cocok untuk wilayah Sukorejo dan perawatannya juga tidak terlalu merepotkan,” ujar Tri Narmi.
Menurutnya, berbeda dengan padi, tanaman bawang merah membutuhkan perawatan lebih ekstra. Mulai dari pengolahan lahan, pemantauan pertumbuhan tanaman hingga pengawasan terhadap serangan hama harus dilakukan secara rutin. Meski demikian, tingginya harga bawang merah beberapa waktu lalu membuat dirinya penasaran untuk mencoba tanaman tersebut.
Tri mengaku, apabila hasil percobaan tersebut tidak sesuai harapan, setidaknya bawang merah yang ditanam masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan, sebagian hasil panen nantinya bisa diberikan kepada keluarga maupun dititipkan untuk dijual di warung tetangga.
“Saya sebenarnya penasaran dengan harga bawang merah yang sempat tinggi. Kalau nanti hasilnya kurang bagus atau tidak untung, setidaknya hasil panen bisa untuk kebutuhan sendiri, keluarga, atau dititipkan sedikit ke warung tetangga,” jelasnya.
Namun, bertambahnya petani yang ikut menanam bawang merah membuat harga komoditas tersebut kembali turun. Saat ini, harga bawang merah di tingkat petani berkisar Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram untuk kualitas yang bagus. Padahal sebelumnya, harga komoditas tersebut sempat menembus lebih dari Rp30.000 per kilogram.
Menurut Tri, harga saat ini belum mampu memberikan keuntungan maksimal jika dihitung dari seluruh biaya produksi, mulai pembelian bibit, pengolahan lahan, perawatan hingga ongkos tenaga kerja. Meski demikian, ia tetap berharap hasil panen percobaan tersebut dapat memberikan manfaat sekaligus menjadi pengalaman bagi petani untuk menentukan komoditas yang lebih menguntungkan ke depan.



