
Ergonomi Dadak Merak di Ponorogo (Foto: miftahul)
Upaya memperkuat pelestarian kesenian Reog Ponorogo kini terus dilakukan melalui pendekatan ilmiah. Salah satunya diwujudkan melalui kajian ergonomi dadak merak pada remaja dan dewasa yang digelar salah satu perguruan tinggi negeri bekerja sama dengan Sanggar Tari Kawulo Bantarangin.
Kepala Pengelola Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Ridzwan Miftahul Aji, mengatakan kajian tersebut penting agar dadak merak tidak hanya dipandang sebagai properti pertunjukan, tetapi juga dari aspek kesehatan dan keselamatan para pembarong.
“Kajian ergonomi ini sangat penting karena dadak merak bukan sekadar properti pertunjukan. Kami juga harus memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan para pembarong saat tampil maupun berlatih,” ujar Miftahul.
Menurutnya, selain membahas risiko kesehatan saat memainkan dadak merak, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mendorong regenerasi pembarong muda agar memahami potensi kesenian Reog, baik sebagai ajang prestasi maupun peluang profesi sebagai pengrajin perlengkapan Reog.
“Kami berharap generasi muda Ponorogo tidak hanya mampu memainkan Reog, tetapi juga memahami filosofi, teknik, dan cara berlatih yang aman. Dengan begitu, pelestarian Reog dapat terus berjalan secara berkelanjutan,” tambahnya.
Sekadar informasi, sarasehan dan dialog interaktif yang berlangsung di Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Desa Somoroto, Kecamatan Kauman, Ponorogo tersebut menghadirkan akademisi, maestro Reog, hingga para pembarong lintas generasi.



