
Bullying pada anak sekolah (foto: Istimewa)
Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Ponorogo turun tangan menindaklanjuti informasi dugaan perundungan atau bullying yang menimpa seorang siswa kelas 5 berinisial W di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada 11 Juni 2026.
Kepala Kantor Kemenag Ponorogo, Tohari, mengatakan pihaknya telah meminta klarifikasi kepada pihak sekolah maupun orang tua korban terkait peristiwa tersebut. Hasilnya, permasalahan disepakati untuk diselesaikan terlebih dahulu secara internal dengan pendekatan kekeluargaan.
“Setelah kami meminta keterangan dari pihak sekolah dan keluarga, permasalahan ini diarahkan untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Harapannya bisa berakhir damai dan tidak menimbulkan persoalan yang berkepanjangan,” ujar Tohari.
Berdasarkan hasil klarifikasi yang diperoleh, insiden tersebut bermula saat sejumlah siswa terlibat dalam sebuah permainan. Dalam permainan itu, salah satu anak terjatuh hingga mengalami cedera berupa patah tulang lengan.
“Dari informasi yang kami terima, anak-anak sedang bermain bersama. Dalam permainan itu ada yang terjatuh dan mengalami cedera. Jadi tidak ditemukan unsur kekerasan yang disengaja maupun tindakan perundungan,” jelasnya.
Tohari menambahkan, kondisi siswa yang mengalami cedera kini sudah berangsur membaik setelah menjalani operasi dan mendapatkan penanganan medis.
Meski persoalan tersebut telah diselesaikan secara damai, Kemenag Ponorogo tetap memberikan peringatan kepada pihak sekolah agar meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa selama berada di lingkungan pendidikan.
“Kami mengingatkan sekolah agar melakukan pengawasan yang lebih maksimal saat anak-anak bermain. Jika perlu, sekolah menyediakan permainan yang lebih edukatif dan aman sehingga kejadian serupa tidak terulang,” tegas Tohari.
Selain itu, Kemenag Ponorogo juga siap mengoptimalkan penerapan Kurikulum Cinta yang selama ini dikembangkan untuk membangun lingkungan pendidikan yang ramah, aman, dan penuh penghormatan antar sesama siswa.
“Melalui Kurikulum Cinta, kami ingin membangun hubungan yang baik antarsiswa, guru, maupun warga sekolah sehingga tercipta suasana belajar yang nyaman dan saling menghargai,” pungkasnya.



