
Inovasi Mahasiswa KKN IPB, Sate Ayam Ponorogo bisa Tahan Satu Tahun (Foto: Slamet)
Inovasi kuliner khas Ponorogo kembali menunjukkan prestasi di kancah internasional. Sate ayam Ponorogo kini berpeluang dinikmati hingga ke luar negeri berkat teknologi pengemasan dan pengawetan hasil inovasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Institut Pertanian Bogor (IPB).
Inovasi tersebut menjadi salah satu capaian terbaik program KKNT IPB pada tahun lalu. Memasuki tahun keempat pelaksanaan KKNT di Ponorogo, IPB kembali menerjunkan mahasiswanya untuk mendampingi masyarakat dan pelaku UMKM di berbagai wilayah.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengapresiasi transfer ilmu dan teknologi yang dibawa para mahasiswa IPB. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi peluang besar bagi pengembangan kuliner khas Ponorogo.
“Kami sangat mengapresiasi transfer ilmu dan teknologi yang dibawa mahasiswa IPB. Berkat teknologi pengemasan yang dikembangkan tahun lalu, sate Ponorogo yang dijadikan oleh-oleh kini bisa lebih awet dan tahan lama sehingga aman dikirim hingga ke mancanegara,” ujar Lisdyarita.
Ia berharap inovasi tersebut mampu meningkatkan daya saing produk UMKM Ponorogo sekaligus memperluas pasar kuliner khas daerah hingga tingkat internasional.
“Harapan kami, inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk UMKM, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas sehingga sate Ponorogo semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Prof. Slamet Budijanto, menjelaskan mahasiswa KKNT tahun lalu berhasil mengembangkan teknologi yang membuat sate Ponorogo mampu bertahan hingga satu tahun tanpa mengurangi kualitasnya.
“Mahasiswa KKNT tahun lalu berhasil mengembangkan teknologi sehingga sate Ponorogo dapat bertahan hingga satu tahun. Ini menjadi peluang besar untuk memperluas pemasaran produk khas Ponorogo ke luar negeri,” jelas Prof. Slamet Budijanto.
Menurutnya, IPB kini tengah membidik pasar ekspor, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji di Arab Saudi. Rencana tersebut akan dikoordinasikan bersama Kementerian Agama dan Kementerian Haji.
“Kami sedang membidik pasar ekspor, salah satunya untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji di Arab Saudi. Tentu hal ini akan kami koordinasikan bersama Kementerian Agama dan Kementerian Haji agar bisa direalisasikan,” katanya.
Pada pelaksanaan KKNT tahun ini, sebanyak 117 mahasiswa IPB diterjunkan ke 15 desa yang berada di Kecamatan Pulung, Ngrayun, dan Pudak. Selama 40 hari ke depan mereka akan mendampingi masyarakat untuk memecahkan berbagai persoalan sekaligus memberdayakan UMKM lokal sebagai subjek pembangunan.
“Sebanyak 117 mahasiswa kami diterjunkan di 15 desa selama 40 hari. Mereka akan membantu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat sekaligus mendorong pemberdayaan UMKM lokal agar semakin berkembang,” pungkas Prof. Slamet Budijanto.



