
ilustrasi pemilik biro yang sesulitan mencari solar (ilustrasi)
Para pengusaha travel di Ponorogo mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis solar bersubsidi dalam dua bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat biaya operasional meningkat karena armada terpaksa menggunakan BBM non-subsidi yang harganya jauh lebih mahal.
Salah satunya disampaikan Dwinda Effendi, pemilik Star Travel. Ia mengaku sering mengalami kerugian karena armada yang seharusnya berangkat sesuai jadwal justru belum mendapatkan pasokan solar.
Menurut Dwinda, kondisi ini membuat pihaknya berada dalam posisi sulit. Di satu sisi harus tetap melayani pelanggan, sementara di sisi lain biaya operasional terus meningkat akibat kelangkaan solar bersubsidi.
“Sering kali penumpang sudah siap berangkat sesuai jadwal, tetapi kendaraan belum mendapatkan solar. Akhirnya kami terpaksa membeli BBM non-subsidi agar perjalanan tetap bisa berjalan,” ujar Dwinda.
Ia menjelaskan, penggunaan Dexlite maupun BBM non-subsidi lainnya membuat biaya perjalanan membengkak. Namun, pihaknya tidak berani menaikkan tarif karena khawatir memberatkan pelanggan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
“Kalau tarif dinaikkan tentu pelanggan juga keberatan. Jadi sementara ini kami menanggung sendiri kenaikan biaya operasional tersebut,” tambahnya.
Dwinda mengaku kelangkaan solar terjadi di banyak daerah, namun menurut pengamatannya kondisi di Ponorogo menjadi salah satu yang paling parah. Hampir di seluruh SPBU terjadi antrean panjang, stok solar sering habis, bahkan pembelian dibatasi.
Selain persoalan solar, para pengusaha travel juga menghadapi kenaikan harga suku cadang kendaraan dan oli yang semakin menambah beban usaha.
Para pelaku usaha berharap pasokan solar bersubsidi segera kembali normal agar operasional transportasi dapat berjalan lancar tanpa harus menanggung biaya tambahan yang besar.



