
(foto: Ilustrasi)
Pemadaman aliran listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Ponorogo pada Rabu, 10 Juni 2026, berdampak pada aktivitas dunia usaha. Salah satu sektor yang terdampak adalah usaha retail yang harus kehilangan potensi omzet sekaligus mengeluarkan biaya tambahan untuk operasional genset.
Pemilik sejumlah usaha retail di Ponorogo, Sayid Abas, mengaku sangat dirugikan karena pemadaman terjadi pada jam-jam sibuk atau prime time belanja masyarakat, yakni antara pukul 15.00 hingga 17.00 WIB.
“Waktu pemadaman kemarin terjadi saat jam ramai pembeli. Tentu sangat berpengaruh terhadap omzet usaha karena aktivitas belanja masyarakat terganggu,” ujar Sayid Abas.
Ia menjelaskan, untuk menjaga pelayanan tetap berjalan, pihaknya terpaksa menyalakan genset yang membutuhkan tambahan biaya bahan bakar. Selain itu, sistem transaksi yang berbasis komputer juga sempat terganggu sehingga harus beralih menggunakan cara manual.
“Kami harus menyalakan genset agar operasional tetap berjalan. Artinya ada biaya tambahan untuk BBM. Transaksi yang biasanya menggunakan komputer juga sempat dilakukan secara manual karena listrik padam,” jelasnya.
Menurut Sayid, durasi pemadaman kali ini cukup lama dan sosialisasi dari pihak PLN dinilai masih kurang. Ia berharap jika terdapat pemadaman terencana, informasi dapat disampaikan lebih awal kepada masyarakat maupun pelaku usaha.
“Kalau memang pemadaman terjadwal, sebaiknya sosialisasinya lebih sering dan lebih awal sehingga pelaku usaha bisa melakukan persiapan. Kemarin banyak yang kaget karena informasi yang diterima terbatas,” katanya.
Meski demikian, ia mengimbau para pelaku usaha mulai menyiapkan sumber listrik cadangan agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik utama.
“Ke depan pengusaha memang harus mulai memikirkan alternatif lain, salah satunya memiliki genset, supaya kegiatan usaha tetap bisa berjalan saat terjadi gangguan listrik,” pungkasnya.



