
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo. (Foto/Yudi)
Intensitas bencana alam di Ponorogo mengalami peningkatan signifikan. Hingga pertengahan April 2026, tercatat sebanyak 50 kejadian bencana, mulai dari banjir, cuaca ekstrem hingga tanah longsor.
Dari jumlah tersebut, bencana tanah longsor mendominasi dengan total 41 kejadian. Sementara itu, tercatat enam kejadian banjir dan tiga dampak cuaca buruk.
Tingginya intensitas hujan serta momentum peralihan musim menuju kemarau diduga menjadi pemicu meningkatnya bencana di wilayah Ponorogo.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan hingga pertengahan bulan ini total bencana terjadi merata di berbagai wilayah Kota Reog.
“Total ada 50 kejadian bencana, dengan rincian 41 longsor, enam banjir, dan tiga akibat cuaca ekstrem,” ujarnya.
Jumlah tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya. Sepanjang Maret 2026, tercatat 36 kejadian bencana dengan rincian 11 banjir, 18 dampak cuaca ekstrem, dan tujuh longsor.
Masun menambahkan, pada Selasa lalu hujan deras memicu delapan titik longsor di Kecamatan Slahung. Kejadian tersebut tersebar di beberapa lokasi, termasuk sempat menutup sebagian akses jalan provinsi Ponorogo–Pacitan.
“Longsor yang terjadi berskala kecil hingga sedang dan langsung ditangani petugas gabungan, sehingga tidak sampai mengganggu arus lalu lintas,” imbuhnya.
Ia mengungkapkan, potensi bencana diprediksi masih akan terjadi di Ponorogo. Oleh karena itu, masyarakat khususnya yang tinggal di kawasan perbukitan diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun dalam durasi lama.
Beruntung, sepanjang rangkaian bencana yang terjadi tahun ini tidak menimbulkan korban jiwa.



