
Kebijakan penarikan retribusi masuk di Taman Wengker-Wengker Park Ponorogo rupanya masih memicu kekecewaan sebagian pengunjung. Tidak sedikit yang mengaku kecewa karena sebelumnya bebas keluar masuk kawasan taman tanpa tiket, namun kini harus membayar harga tiket masuk (HTM).
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo memaklumi reaksi tersebut. Meski begitu, kebijakan retribusi dinilai tetap diperlukan untuk mendukung pengelolaan kawasan wisata edukasi tersebut.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan, dan Konservasi Sumber Daya Alam DLH Ponorogo, Ervina Nurdianti, mengakui ada sejumlah calon pengunjung yang akhirnya membatalkan kunjungan setelah mengetahui adanya tiket masuk.
“Memang ada yang kecewa, bahkan ada juga yang akhirnya tidak jadi berkunjung setelah mengetahui ada HTM. Rata-rata yang membatalkan justru rombongan sekolah yang ingin mengajak siswa wisata edukasi,” ujar Ervina.
Menurutnya, sebagian sekolah mengurungkan niat setelah mengetahui biaya masuk dikenakan Rp5 ribu per orang.
“Ketika ditawari tiket Rp5 ribu per orang, beberapa sekolah akhirnya memilih batal datang,” imbuhnya.
Ervina menjelaskan, penerapan tiket masuk di Taman Wengker sebenarnya bukan kebijakan baru. HTM sudah mulai diberlakukan sejak awal 2024, dengan tarif Rp5 ribu per orang untuk hari Senin hingga Jumat dan Rp10 ribu saat akhir pekan.
Namun, karena banyak protes dari masyarakat, DLH kemudian merevisi tarif pada awal 2025.
“Untuk weekend yang awalnya Rp10 ribu kami turunkan menjadi Rp7 ribu agar lebih terjangkau,” jelasnya.
Menurut Ervina, penarikan HTM dilakukan karena DLH mendapat target pendapatan asli daerah (PAD) dari kawasan wisata tersebut. Pada 2025 lalu, target retribusi masuk dipatok Rp7 juta, sementara tahun 2026 naik menjadi Rp10 juta hingga Rp12 juta.
Selain itu, target pendapatan dari parkir juga meningkat dari Rp4 juta pada 2025 menjadi Rp5 juta pada tahun ini.
Meski berbayar, DLH memastikan kualitas pengelolaan kawasan wisata terus ditingkatkan. Salah satu fokus utama adalah menjaga kebersihan taman agar tetap nyaman bagi pengunjung.
“Yang utama kami selalu menjaga kebersihan. Selain itu di Taman Wengker juga ada ratusan jenis tanaman langka yang kami konservasi, sehingga sangat cocok untuk wisata edukasi,” tegasnya.
Tak hanya menawarkan koleksi tanaman konservasi, kawasan tersebut juga dilengkapi sarana outbound yang menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung, khususnya rombongan pelajar dan keluarga.
Dengan berbagai fasilitas tersebut, DLH berharap masyarakat dapat memahami bahwa retribusi yang dibayarkan akan kembali pada peningkatan kualitas layanan dan kelestarian kawasan wisata.



