
Kenaikan harga plastik kini berdampak luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Ponorogo. Setelah sebelumnya terbebani harga kemasan, para pelaku usaha kembali dipusingkan dengan naiknya harga minyak goreng.
Kondisi ini membuat pelaku UMKM seakan mendapat pukulan bertubi-tubi. Mereka pun harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah kenaikan biaya produksi.
Berbagai strategi dilakukan, mulai dari menaikkan harga jual, mengubah ukuran produk, hingga mengurangi volume isi kemasan agar tidak merugi.
Ketua Forum IKM Ponorogo, Sunarto, mengakui bahwa banyak pelaku usaha sudah tidak mampu mempertahankan harga lama.
“Sudah banyak pedagang yang tidak lagi bertahan dengan harga lama. Secara hitung-hitungan, dengan kenaikan bahan baku dan plastik seperti sekarang, mau tidak mau harus menaikkan harga jual kalau tidak ingin terus rugi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga plastik juga berpengaruh terhadap naiknya sejumlah bahan baku, termasuk minyak goreng.
“Informasi yang kami terima, kenaikan minyak goreng juga dipicu karena harga plastik untuk kemasannya ikut naik,” jelas Sunarto.
Tak hanya minyak goreng, lanjutnya, hampir seluruh bahan baku lainnya juga mengalami kenaikan, meskipun masih dalam kisaran tipis.
Beberapa sektor UMKM yang paling terdampak di antaranya usaha aneka keripik serta pedagang gorengan, yang sangat bergantung pada minyak goreng dan kemasan plastik dalam proses produksinya.



