
Tanah longsor terjadi di lahan Perhutani yang masuk wilayah administratif Dusun Sedayu, Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, pada Senin, 6 April 2026. Peristiwa tersebut mengancam tiga rumah warga milik Boiran, Wito, dan Rimin.
KRPH Wayang Ngebel, Yudha, membenarkan adanya longsor di kawasan tersebut. Meski demikian, ia menjelaskan jarak antara titik longsor dengan rumah warga sebenarnya masih cukup jauh. Ancaman muncul apabila material longsoran terbawa aliran air hujan hingga mengarah ke permukiman warga.
Karena itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan terutama saat hujan deras turun dalam durasi lama. Penghuni tiga rumah yang terdampak disarankan sementara mengungsi ke rumah tetangga atau saudara yang lebih aman ketika cuaca memburuk. Namun, saat kondisi cuaca cerah, rumah-rumah tersebut masih dinilai aman untuk ditempati.
Longsor dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan itu pada malam hari hingga memunculkan retakan tanah. Material longsoran memiliki tinggi sekitar 60 meter, lebar 30 meter, dengan kemiringan lereng mencapai 45 derajat.
Lokasi longsor berada di lahan Perhutani yang merupakan kawasan hutan lindung dengan berbagai jenis pohon. Namun, struktur tanah di area tersebut lebih banyak didominasi bebatuan dibanding tanah padat, sehingga rawan mengalami pergeseran saat curah hujan tinggi.
Sebagai langkah antisipasi, pihak Perhutani bersama warga sekitar membuat saluran pembuangan air hujan agar aliran air mengalir lancar dan tidak menambah tekanan pada lereng. Selain itu, penanaman pohon di titik-titik rawan longsor juga diagendakan untuk memperkuat struktur tanah dan mencegah kejadian serupa terulang.



