
Pasca Bencana, BBM di NTT Sulit (Foto: Ilustrasi)
Relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur yang sejak Rabu malam, 19 Agustus 2026, berada di Manggarai Barat, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadapi sejumlah kendala saat menjalankan tugas asesmen pascabencana gempa bumi. Salah satu kendala utama yakni sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) serta mahalnya biaya sewa kendaraan.
Ketua MDMC Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo, Harun Arafat, mengatakan tim relawan harus menghadapi antrean panjang di sejumlah SPBU untuk mendapatkan BBM. Kondisi tersebut membuat tim akhirnya memilih membeli BBM secara eceran dengan harga yang lebih mahal.
“Kalau mau mendapatkan BBM di SPBU, tim harus antre seharian. Akhirnya kami memilih membeli secara eceran dengan harga sekitar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per liter,” ujar Harun.
Selain persoalan BBM, relawan juga menghadapi tingginya biaya sewa kendaraan. Untuk satu unit mobil kecil, biaya sewa berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat relawan untuk menjalankan tugas kemanusiaan.
Tim MDMC Jawa Timur berencana melakukan asesmen di sejumlah wilayah yang terdampak gempa, mulai dari Manggarai Barat dan Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, hingga Flores Timur. Dalam menjalankan tugasnya, relawan juga berkoordinasi dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Manggarai yang telah mendirikan posko koordinasi.
Harun menjelaskan, hingga saat ini tim masih fokus melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan paling mendesak masyarakat terdampak. Sementara itu, bantuan logistik dari Muhammadiyah masih dalam perjalanan menuju wilayah terdampak.
Di sisi lain, kondisi masyarakat NTT masih diliputi trauma dan kecemasan. Gempa susulan masih terjadi meski skalanya tidak sebesar gempa utama yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
“Gempa susulan masih sering terjadi meskipun skalanya tidak sebesar gempa pertama. Warga masih trauma dan cemas. Bahkan ada yang sebelumnya sudah kembali ke rumah, tetapi kemudian memilih keluar lagi untuk mencari tempat yang lebih aman,” kata Harun.
Relawan MDMC akan terus melakukan asesmen untuk memastikan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah terdampak dapat dipetakan. Hasil asesmen tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan bentuk bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat.



