
Produksi Kopi di Ponorogo Terancam Turun (Foto: Istimewa)
Produksi kopi di Kabupaten Ponorogo diperkirakan mengalami penurunan cukup signifikan pada tahun ini akibat dampak perubahan iklim dan musim kemarau yang berkepanjangan. Hingga pertengahan tahun 2026, hasil panen kopi tercatat menurun sekitar 15 hingga 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipicu berkurangnya ketersediaan air yang memengaruhi pertumbuhan tanaman serta proses pembentukan bunga dan buah kopi. Meski demikian, petani masih memiliki peluang mempertahankan produktivitas apabila menerapkan teknik budidaya yang tepat untuk menghadapi cuaca ekstrem.
Penata Layanan Operasional Bidang Perkebunan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo, Lukito Hari Sediyarto, mengatakan petani kopi harus mulai beradaptasi dengan perubahan iklim agar hasil panen tetap optimal. Salah satu upaya yang dianjurkan adalah menerapkan sistem drip irrigation atau irigasi tetes yang dinilai lebih efisien dalam penggunaan air dibandingkan penyiraman secara konvensional.
“Tahun ini produksi kopi diperkirakan turun sekitar 15 hingga 18 persen dibandingkan tahun lalu karena dampak kekeringan. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, petani perlu menerapkan drip irrigation atau irigasi tetes karena lebih hemat air, mampu menjaga kelembapan tanah saat musim kemarau, serta membantu mencegah bunga kopi rontok sehingga hasil panen tetap lebih baik,” ujar Lukito Hari Sediyarto.
Selain penggunaan irigasi tetes, Lukito juga mengimbau petani agar tidak membersihkan seluruh rumput yang tumbuh di sekitar tanaman kopi. Menurutnya, keberadaan rumput justru berfungsi menjaga kelembapan tanah sehingga tanaman tidak mudah mengalami stres akibat suhu yang tinggi. Langkah sederhana tersebut dinilai mampu membantu mempertahankan produktivitas kebun kopi di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
“Petani juga sebaiknya tidak memotong habis rumput di sekitar tanaman kopi karena dapat membantu menjaga kelembapan tanah. Meskipun produksi diperkirakan menurun, kabar baiknya harga green bean robusta saat ini mulai naik menjadi sekitar Rp68.000 hingga Rp70.000 per kilogram. Padahal pada musim panen sebelumnya harga tertinggi hanya sekitar Rp63.000 per kilogram, sehingga kenaikan harga ini diharapkan bisa membantu menjaga pendapatan petani,” kata Lukito.
Dinas Pertanian berharap para petani kopi di Ponorogo mulai menerapkan pola budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim sehingga produktivitas kebun tetap terjaga dan kualitas hasil panen dapat terus meningkat pada musim-musim berikutnya.



