
Warga dan Koramil Gotong Royong Bersihkan puing Reruntuhan Rumah Ambruk di Nglewan Sambit (Foto: Panti Siswanto)
Pasca ambruknya rumah milik Kademi, warga RT 03 RW 01 Dukuh Banyon, Desa Nglewan, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo, bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan yang roboh. Kerja bakti yang dimulai sejak Minggu (2/8/2026) malam itu kembali dilanjutkan pada Selasa (4/8/2026) karena proses pembersihan sebelumnya belum selesai. Kegiatan tersebut melibatkan warga, personel Koramil, serta perangkat desa agar seluruh material bangunan yang runtuh dapat segera disingkirkan.
Rumah yang dihuni Kademi, seorang janda berusia 55 tahun, roboh diduga akibat kondisi bangunan yang sudah tua. Bagian atap yang menggunakan rangka bambu dan kayu glugu diperkirakan telah lapuk sehingga tidak mampu lagi menopang beban bangunan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Saat rumah ambruk, Kademi sempat berada di dalam rumah, namun berhasil selamat meski mengalami syok. Kerugian akibat peristiwa itu ditaksir mencapai sekitar Rp25 juta.
Sekretaris Desa Nglewan, Panti Siswanto, mengatakan fokus pemerintah desa saat ini adalah membersihkan sisa-sisa reruntuhan agar lokasi menjadi aman. Sementara untuk pembangunan kembali rumah korban, pemerintah desa masih berupaya mencari bantuan dari para donatur maupun pihak lain yang bersedia memberikan dukungan.
“Saat ini yang bisa kami lakukan adalah membersihkan puing-puing rumah yang roboh bersama warga, Koramil, dan perangkat desa. Untuk pembangunan kembali rumah Bu Kademi, kami masih berupaya mencari bantuan dari para donatur. Sementara bantuan kebutuhan pokok sudah kami terima dari PMI untuk meringankan beban beliau,” ujar Panti Siswanto.
Menurut Panti, Kademi merupakan seorang janda yang hidup seorang diri dan bekerja sebagai buruh tani. Sejak rumahnya roboh, korban sementara tinggal bersama kakaknya yang rumahnya berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Mengenai dugaan keterkaitan robohnya rumah dengan aktivitas tambang pasir di sekitar lokasi, pihak desa belum dapat memastikan penyebabnya. Meski demikian, diakui bahwa lokasi rumah korban memang berjarak sekitar 25 meter dari area aktivitas tambang pasir.
“Terkait dugaan pengaruh aktivitas tambang, kami belum bisa memastikan karena perlu kajian lebih lanjut. Yang jelas, lokasi rumah Bu Kademi memang berada sekitar 25 meter dari area tambang pasir. Untuk saat ini, prioritas kami adalah memastikan kebutuhan korban terpenuhi dan mengupayakan bantuan agar rumahnya bisa segera dibangun kembali,” kata Panti.
Pemerintah desa berharap ada dukungan dari berbagai pihak agar Kademi segera memiliki tempat tinggal yang layak dan dapat kembali menjalani aktivitasnya seperti semula.



