
Harga Ayam Telur Masih Anjlok (Foto: Istimewa)
Harga telur ayam di tingkat peternak di Kabupaten Ponorogo hingga awal Agustus 2026 masih belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Bahkan, harga jual terus mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya yang sempat berada di kisaran Rp22.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat para peternak semakin tertekan karena harga jual dinilai belum mampu menutup biaya produksi. Harapan agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menyerap produksi telur lokal dan mendongkrak harga pun hingga kini belum terwujud.
Peternak ayam petelur asal Kecamatan Sukorejo, Eny Kustianingsih, mengatakan keberadaan dapur-dapur penyedia MBG di Ponorogo sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan harga telur. Menurutnya, sebagian dapur MBG masih membeli telur dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga di tingkat grosir maupun pedagang pasar. Padahal, pemerintah telah memberikan acuan harga melalui Kementerian Pertanian dan Badan Gizi Nasional (BGN) agar keberadaan program tersebut juga mampu mendukung keberlangsungan usaha peternak lokal.
“Kami berharap dapur-dapur MBG bisa membeli telur sesuai harga acuan pemerintah. Namun kenyataannya masih ada yang membeli dengan harga lebih rendah dari harga pasar sehingga belum mampu mengangkat harga telur di tingkat peternak. Akibatnya, kondisi peternak sampai sekarang masih cukup berat,” ujar Eny Kustianingsih.
Selain dipengaruhi pola pembelian dari dapur MBG, Eny menilai fluktuasi harga telur juga dipicu oleh informasi harga yang beredar di media sosial. Menurutnya, tidak sedikit patokan harga yang justru ditentukan oleh pihak yang bukan peternak maupun pedagang, sehingga memengaruhi harga di lapangan. Untuk mengurangi kerugian akibat melimpahnya produksi, peternak di Ponorogo mulai melakukan afkir atau pengurangan populasi ayam petelur hingga sekitar 10 persen, terutama terhadap ayam-ayam yang sudah berusia tua dan produktivitasnya menurun.
“Kalau kondisi ini terus berlangsung, peternak terpaksa melakukan afkir ayam agar produksi telur tidak semakin berlebih. Kami berharap seluruh SPPG maupun dapur MBG di Jawa Timur, khususnya di Ponorogo, bisa bekerja sama dengan peternak lokal dan mengikuti acuan harga pemerintah sehingga usaha peternak tetap bisa bertahan,” kata Eny.
Meski harga telur masih lesu, para peternak sedikit mendapat angin segar karena harga daging ayam mulai membaik dan kini berada di atas Rp31.000 per kilogram. Mereka berharap kondisi tersebut diikuti dengan membaiknya harga telur sehingga keseimbangan usaha peternakan kembali terjaga.



