
Salah satu jembatan Merah Putih Presisi di desa Wagir Lor Ngebel
Empat jembatan yang sempat putus akibat bencana beberapa waktu lalu di Ponorogo kini mulai kembali berfungsi. Pembangunan dilakukan melalui kolaborasi antara Polres Ponorogo dan Pemerintah Kabupaten Ponorogo guna memulihkan akses vital masyarakat.
Dari total empat jembatan yang dibangun, tiga di antaranya telah rampung dan sudah bisa dilalui warga. Jembatan tersebut berada di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, serta Desa Grogol dan Desa Mingging di Kecamatan Sawoo. Sementara satu jembatan lainnya di Kecamatan Bungkal masih dalam tahap pengerjaan.
Kapolres Ponorogo, Andin Wisnu Sudibyo, menyampaikan bahwa keempat jembatan tersebut diberi nama Jembatan Merah Putih Presisi.
“Pembangunan jembatan ini sangat penting dan krusial karena menjadi akses utama masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Ini juga mendapat atensi langsung dari Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan jembatan sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas harian warga, terutama bagi pelajar yang harus menyeberang saat berangkat dan pulang sekolah.
“Alhamdulillah, untuk tiga jembatan yang sudah selesai, saat ini sudah bisa dilewati. Dalam waktu dekat juga akan segera diresmikan oleh Plt Bupati Ponorogo,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Andin menjelaskan bahwa anggaran pembangunan jembatan dialokasikan oleh Pemkab Ponorogo dengan kisaran Rp500 juta hingga Rp1 miliar per jembatan, dengan waktu pengerjaan sekitar tiga bulan.
“Saat ini satu jembatan di Kecamatan Bungkal masih dalam proses pembangunan. Ke depan, kami akan terus berkoordinasi dengan Pemkab untuk mendata jembatan lain yang mengalami kerusakan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala SDN 4 Wagir Lor Ngebel, Zainal Arifin, mengaku bersyukur atas selesainya pembangunan jembatan di wilayahnya.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya jembatan ini. Akses warga jadi lebih mudah, terutama anak-anak kami yang berangkat ke sekolah,” ungkapnya.
Ia menuturkan, sebelum jembatan dibangun, para siswa harus berjuang ekstra untuk bisa sampai ke sekolah.
“Perjuangan anak-anak luar biasa. Mereka harus menyeberangi sungai setiap hari demi bisa belajar di sekolah,” pungkasnya.



