
Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Ponorogo yang dulu dikenal dengan lahan kering, kini berhasil bertransformasi menjadi desa swasembada pangan. Perubahan besar itu terjadi setelah pemerintah desa di bawah kepemimpinan Kepala Desa Eko Mulyadi membangun banyak embung dan sumur air dalam untuk mendukung kebutuhan irigasi.
Saat ini, desa dengan jumlah penduduk sekitar 5.746 jiwa tersebut mampu mewujudkan program ketahanan pangan pemerintah melalui swasembada pangan. Bahkan, produksi padi yang dihasilkan tidak hanya mencukupi kebutuhan warga, tetapi juga surplus untuk beberapa tahun ke depan.
Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi, mengungkapkan bahwa produksi padi di desanya saat ini mampu mencukupi kebutuhan pangan warga hingga tiga tahun mendatang.
“Produksi padi di Desa Karangpatihan saat ini mampu mencukupi kebutuhan pangan warga hingga tiga tahun ke depan,” ujar Eko Mulyadi.
Ia menjelaskan, luas baku sawah di desanya mencapai 209 hektare dengan intensitas musim tanam padi hingga tiga kali dalam setahun. Dari luas tersebut, produksi gabah mencapai 2.160 ton yang setelah dikonversi menjadi beras setara sekitar 1.260 ton.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Desa Karangpatihan dalam satu tahun hanya sekitar 450 ton.
“Dengan capaian ini, desa kami tidak hanya swasembada, tetapi sudah surplus,” tambahnya.
Menurut Eko, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif para petani, tata kelola desa yang baik, serta kesadaran bersama dalam menjaga lahan pertanian. Hal itu menjadikan Karangpatihan tidak lagi berada pada tahap bertahan, melainkan terus berkembang.
Surplus pangan yang dimiliki juga membuka peluang besar bagi stabilitas sosial, penguatan ekonomi lokal, hingga hilirisasi sektor pertanian, mulai dari cadangan pangan desa, pengolahan beras, sampai distribusi yang lebih mandiri.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa ketahanan pangan sejati tidak berhenti pada produksi berlebih semata.



