
Menjelang Hari Raya Idulfitri, sejumlah penjahit di Kabupaten Ponorogo mengaku mengalami penurunan pendapatan. Hal ini karena semakin sedikit masyarakat yang membuat pakaian baru di jasa penjahit.
Salah satu penjahit di Kecamatan Mlarak, Zuliono, mengatakan tren membuat baju baru di penjahit menjelang lebaran kini jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Sekarang yang membuat baju baru di penjahit sangat berkurang sekali. Kalau pun ada biasanya hanya pesanan seragam kantor atau instansi,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi tersebut berbeda jauh dengan beberapa tahun lalu ketika menjelang Idulfitri menjadi momen paling ramai bagi penjahit karena banyak warga memesan pakaian baru.
“Dulu kalau menjelang lebaran pesanan baju baru sangat banyak. Tapi beberapa tahun terakhir justru yang paling banyak datang itu membawa baju baru untuk dipermak,” jelasnya.
Menurut Zuliono, perubahan tren ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang kini lebih sering membeli pakaian secara daring. Namun, ukuran pakaian yang dibeli secara online kerap tidak sesuai sehingga perlu diperbaiki di penjahit.
“Sekarang banyak yang belanja baju secara online. Tapi ketika datang ukurannya tidak pas, akhirnya dibawa ke penjahit untuk dipermak,” katanya.
Untuk biaya permak pakaian, Zuliono mematok tarif mulai sekitar Rp15 ribu, tergantung tingkat kesulitan perbaikannya.
Meski pesanan pembuatan baju baru menurun, Zuliono mengaku tetap melayani pelanggan yang datang membawa kain bahan untuk dijahit menjadi pakaian baru.



