
Demi jalur yang lebih dekat, anak-anak harus di gendong untuk menyeberangi sungai saat sekolah. (Foto/Yudi)
Masih ada warga Ponorogo yang harus menyeberangi sungai saat beraktivitas, termasuk untuk berangkat ke sekolah. Sedikitnya enam kepala keluarga (KK) di RT 01 RW 01 Dusun Karangsengon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, hingga kini harus menyeberangi aliran sungai untuk beraktivitas sehari-hari lantaran tidak memiliki akses jembatan untuk menyeberang.
Soiman salah satu warga kepada wartawan mengungkapkan setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah, anak-anak harus digendong untuk menyeberangi sungai. Menurutnya, jalur terdekat menuju sekolah memang harus melintasi sungai. Alternatif jalan lain tersedia, namun harus memutar sejauh kurang lebih tiga kilometer.
Saat ini, minimal ada lima anak sekolah yang setiap hari menyeberangi sungai, terdiri dari dua anak TK, dua anak SD, dan satu pelajar SMK. Untuk anak usia dini dan sekolah dasar, orang tua harus menggendong saat arus cukup deras. Sepeda motor pun harus dititipkan di rumah warga yang berada di seberang sungai. Sebenarnya, pada 2006 lalu sempat ada jembatan bambu yang dibangun secara swadaya. Namun, jembatan tersebut rusak setelah diterjang banjir saat musim penghujan.
Sementara itu, Sarmin Kepala Desa Sidoharjo saat dikonfirmasi Jum’at (13/02) mengakui kondisi tersebut. Di lingkungan RT 01 RW 01 Dusun Karangsengon terdapat empat rumah yang masih dalam satu RT namun terpisah dan berada di seberang sungai serta bergantung pada akses tersebut. Menurutnya, jika Desa harus membangun jembatan sendiri, anggarannya tidak mencukupi.



