
Gambar ilustrasi
PONOROGO – Tingginya curah hujan di Ponorogo dalam beberapa hari terakhir berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat.
Sejumlah apotek menyampaikan bahwa selain adanya kenaikan permintaan obat flu dan batuk (bapil), permintaan obat diare juga meningkat. Bahkan, permintaan obat diare tergolong cukup tinggi, yakni hingga 50 persen dibandingkan sebelumnya.
Seperti disampaikan Arif Nasruhan, pemilik sejumlah apotek di kawasan kota, sejak dua pekan terakhir terjadi banyak permintaan obat diare.
Ketika ia mengkonfirmasi ke beberapa apoteker di rumah sakit, ternyata juga banyak pasien rawat inap, khususnya anak-anak, yang terkena diare. Di apotek-nya, awalnya konsumen datang meminta obat diare untuk anak-anak, namun akhir-akhir ini banyak juga pasien dewasa.
Curah hujan yang tinggi diperkirakan menjadi pemicu berkembangnya bakteri maupun virus yang bisa menempel pada makanan.
Ketika makanan yang sudah terkontaminasi kuman masuk ke dalam tubuh, hal itu mengganggu saluran pencernaan yang berakibat pada diare.
Beberapa pasien yang datang ke apoteknya mengaku merasakan demam sebelum mengalami diare.
Menurutnya, jika ada demam dan nyeri, selain mengonsumsi obat diare, pasien juga bisa mengkonsumsi obat pereda sakit seperti parasetamol.
Namun, jika lebih dari tiga hari diare belum berhenti bahkan makin parah—yang ditandai dengan adanya darah saat BAB—pasien diminta segera ke dokter. Yang paling penting saat diare adalah menjaga asupan makanan dan minuman agar tidak terjadi dehidrasi. (rl/ab)



