
Puluhan hektare area persawahan di Desa Ngampel, Kecamatan Balong, terendam banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Jumat, 2/1/2026. Padi yang baru berusia sekitar dua bulan kini terancam gagal panen.
Air mulai memasuki area persawahan sejak Jumat dini hari. Memasuki pagi hari, debit air terus meningkat dan merendam tanaman padi di beberapa titik.
Sunardi, warga Dukuh Krajan, mengatakan air datang tiba-tiba dan semakin lama semakin tinggi.
“Sejak dini hari air sudah masuk. Pagi harinya tambah tinggi sampai padi di RT 2 RW 1 ikut terendam,” ujarnya.
Ia mengaku khawatir banjir akan bertahan lama.
“Kalau padi terendam sehari semalam, bisa-bisa gagal panen. Usianya baru dua bulan, masih sangat rentan,” tambahnya.
Menurut perkiraan warga, sekitar 30 hektare lahan sawah terdampak banjir. Selain sawah, sejumlah rumah warga juga ikut tergenang.
“Di RT 1 RW 1, ada sekitar tujuh rumah yang kemasukan air setinggi mata kaki. Di sini memang langganan banjir, jadi banyak warga yang meninggikan rumah,” kata Sunardi.
Banjir diduga terjadi akibat luapan Sungai Ngampel yang tidak mampu menampung debit air, ditambah curah hujan tinggi sejak Kamis malam.
Sementara itu, Kepala Desa Ngampel, Siswanto, menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Kami sudah melapor ke BPBD. Petugas akan turun melakukan pendataan sekaligus melihat langkah penanganan,” jelasnya.
Tidak hanya merendam permukiman dan sawah, banjir juga menggenangi ruas Jalan Raya Ponorogo–Pacitan yang melintas di Desa Ngampel.
“Air sempat menutup sebagian badan jalan, sehingga arus lalu lintas terganggu. Kami imbau pengendara hati-hati,” ujar Siswanto.



