AdvertorialJelajah

Bulan Bahasa, GPM Ponorogo Gelar Lomba Mendongeng dan Menyampaikan Paparan

Bulan bahasa diperingati Geliat Ponorogo menulis – GPM dengan berbagai perlombaan. Pertama, adalah lomba mendongeng untuk guru TK, kedua, lomba menyampaikan paparan untuk Siswa SD dan SMP. Acara yang mulai diselenggarakan 26 September hingga 26 Oktober 2022 tersebut, sukses karena pesertanya membludak dan mendapat dukungan banyak pihak.

Nurlaila Jazuli, ketua panitia lomba mengatakan bangga dan bersyukur kegiatan yang berlangsung selama satu bulan penuh tersebut selesai dan mendapatkan pemenang yang menurutnya sangat berkualitas. Ada dua tempat yang dijadikan perlombaan yakni di SMPN 5 Ponorogo saat seleksi 20 besar, dan SMPN 6 saat seleksi 10 besar. 

Diakui diadakannya lomba mendongeng, mengingat sudah jarang dilakukan khususnya di kalangan ibu-ibu. Dongeng selain membangun imajinasi anak juga menanamkan karakter sehingga ceritanya harus bagus tak sekedar pengantar tidur. Adapun untuk lomba menyampaikan paparan, tema nya untuk pelajar SD adalah potensi yang ada di Ponorogo melalui Ponorogo Hebat, sedangkan anak SMP skalanya lebih luas, dengan tema menjelajah negeri menggali potensi. Tema dari bulan bahasa Geliat Ponorogo Menulis , “ Berbudaya Literasi, Membangun Negeri.”  

Selain bulan bahasa, kegiatan tersebut juga dalam rangka peringatan HUT GPM yang ke 3, bekerja sama dengan Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia dan Pemkab Ponorogo.

Sementara Luluk Afrita pemenang lomba dongeng dari TK Kemala Bhayangkari Pulung mengaku bangga dan bersyukur, dengan prestasi tersebut meski  ilmu mendongeng didapat secara otodidak. Saat kecil dirinya memang suka omong sendiri karena asyik dengan dunia khayalan.

Cerita yang diambil berjudul “ Lulu dan Tukang Sihir Lucu” yang mengisahkan seorang anak yang suka ngedot, lalu ketemu dengan tukang sihir yang memiliki gigi hitam semua. Tak menyangka cerita tersebut menarik hati para juri. Cerita tersebut juga berdasarkan pengalamannya memiliki murid yang hobi nya nge dot. Saat cerita itu dijadikan bahan dongeng ke anak didiknya ternyata mereka tertarik bahkan yang punya hobi ngedot, tidak mau lagi dengan pilih minum susu di gelas.