
Macetnya Air PDAM di Dungus (Foto: Rustamji)
Keluhan puluhan kepala keluarga (KK) di Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Ponorogo, terkait sulitnya mendapatkan air bersih akibat aliran PDAM yang macet langsung ditanggapi Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Tirto Katong Ponorogo. Petugas turun ke lokasi pada Kamis, 13 Agustus 2026, untuk mengecek kondisi jaringan sekaligus mencari penyebab terganggunya distribusi air.
Kepala Unit PUDAM Pulung, Rustamji, mengatakan dari hasil pengecekan ditemukan dua titik kebocoran pada jaringan. Petugas langsung melakukan penanganan agar distribusi air kepada pelanggan dapat kembali berjalan.
“Kami sudah melakukan pengecekan jaringan dan memang ditemukan dua titik kebocoran. Saat itu juga langsung kami tangani. Namun, persoalannya bukan hanya kebocoran, karena debit sumber air baku juga mulai mengecil akibat musim kemarau,” ujar Rustamji.
Menurutnya, PUDAM Pulung mengandalkan sumber air baku di kawasan Mendak, Wagir Kidul, Kecamatan Pulung. Jarak sumber air tersebut dengan Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, mencapai sekitar 20 kilometer sehingga distribusi air menjadi cukup jauh.
Selain itu, sumber air di wilayah Wagir Kidul tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti minum dan memasak. Sebagian pelanggan juga memanfaatkannya untuk kebutuhan pengairan perkebunan. Kondisi tersebut membuat pembagian air kepada pelanggan menjadi lebih sulit ketika debit sumber air menurun pada musim kemarau.
Rustamji mengatakan pihaknya akan terus memantau kondisi jaringan dan debit air baku. Apabila kondisi kekurangan air terus berlanjut, PUDAM akan menyiapkan langkah penanganan berupa distribusi air bersih menggunakan truk tangki ke rumah-rumah pelanggan yang terdampak.
Sementara itu, Kamituwo Dusun Dungus, Suprianta, mengatakan sekitar 80 persen warga di wilayahnya menggantungkan kebutuhan air bersih dari jaringan PDAM. Karena itu, ketika aliran air mengecil bahkan berhenti, warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih sejumlah sumber air alternatif juga mulai mengering.
“Sekitar 80 persen warga bergantung pada PDAM. Kalau alirannya kecil atau macet, warga bingung karena sumber air lainnya juga mulai mengering. Krisis air ini sudah berlangsung sekitar dua minggu, meskipun tidak semua warga terdampak,” kata Suprianta.
Ia menambahkan, warga yang terdampak sebelumnya telah menerima bantuan droping air bersih dari Polsek Pulung. Sementara pengajuan bantuan distribusi air bersih kepada BPBD Ponorogo masih dalam proses.



