
BPBD Ponorogo Dropping Air Bersih ke Dua Lokasi (Foto: Yudi)
Puncak musim kemarau mulai berdampak pada krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Ponorogo. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat sedikitnya ada dua lokasi yang mengajukan permohonan bantuan dropping air bersih, yakni SMAN 1 Jenangan dan Dukuh Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal. BPBD pun mulai melakukan asesmen sekaligus menyiapkan langkah penanganan agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan kedua lokasi tersebut memang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih akibat musim kemarau yang mulai memasuki puncaknya. Menurutnya, SMAN 1 Jenangan hampir setiap tahun menjadi langganan kekeringan, sementara di Dukuh Bungur terdapat ratusan warga yang mulai terdampak.
“Saat ini kami menerima dua permohonan dropping air bersih, yakni dari SMAN 1 Jenangan dan Dukuh Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal. Untuk SMAN 1 Jenangan, kondisi ini memang hampir terjadi setiap tahun. Terakhir kami melakukan dropping air pada Kamis, 23 Juli lalu, karena ada kegiatan sekolah yang diikuti lebih dari 300 siswa menginap. Selama ini mereka mengandalkan pasokan dari PDAM maupun Pamsimas, tetapi volumenya tidak mencukupi kebutuhan,” ujar Masun.
Masun menjelaskan, di Dukuh Bungur terdapat sekitar 153 jiwa yang mulai terdampak kekeringan. Sebelum mendistribusikan bantuan, BPBD terlebih dahulu melakukan asesmen lapangan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat, termasuk mengecek kesiapan tandon air serta mendata jumlah jeriken bantuan yang masih dapat digunakan.
Menurutnya, penanganan kekeringan di wilayah tersebut cukup menantang karena kondisi geografisnya menyulitkan pembangunan sumur dalam. Berbeda dengan Desa Duri dan Desa Wates di Kecamatan Slahung yang sama-sama berada di kawasan perbukitan, tetapi masih memiliki sumber air yang hingga kini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Petugas saat ini masih melakukan asesmen dan pendataan di lokasi terdampak. Kami juga mengecek kesiapan tandon air serta jumlah jeriken bantuan yang masih bisa dimanfaatkan. Untuk Dukuh Bungur memang cukup sulit dibuat sumur dalam karena kondisi sumber airnya berbeda dengan Desa Duri maupun Wates di Kecamatan Slahung. Walaupun sama-sama berada di daerah pegunungan, di sana masih tersedia sumber air sehingga sampai sekarang belum ada tanda-tanda kekeringan,” pungkasnya.
BPBD Ponorogo memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan selama musim kemarau berlangsung. Apabila jumlah wilayah terdampak bertambah, distribusi bantuan air bersih akan segera dilakukan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.



