
Petani Keramba di Telaga Ngebel Lakukan Panen Dini (Foto: Langgeng)
Tak ingin menanggung kerugian yang lebih besar, para petani keramba di Telaga Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, terpaksa memanen lebih awal ikan nila yang mereka budidayakan. Keputusan tersebut diambil menyusul fenomena upwelling yang semakin parah dalam lima hari terakhir dan menyebabkan banyak ikan mengalami mabuk hingga mati. Akibat panen dini tersebut, petani harus menjual hasil panennya dengan harga jauh di bawah harga normal.
Salah seorang petani keramba di Desa Gondowido, Langgeng, mengatakan fenomena upwelling kali ini datang lebih cepat dibanding biasanya. Kondisi tersebut membuat kadar oksigen di perairan menurun sehingga ikan di dalam keramba mengalami stres, mabuk, bahkan mati. Demi mengurangi kerugian, para petani memilih memanen ikan yang masih hidup meski ukurannya belum maksimal.
“Begitu ikan di keramba mulai mabuk, kami langsung panen lebih awal supaya kerugiannya tidak semakin besar. Biasanya ikan nila kami jual sekitar Rp30.000 per kilogram, tetapi sekarang hanya laku antara Rp15.000 sampai Rp20.000 per kilogram karena kondisinya darurat. Kalau tidak segera dijual, ikan bisa mati semua,” ujar Langgeng.
Ia menjelaskan, ikan nila berukuran besar menjadi yang paling banyak terdampak fenomena tersebut. Sementara ikan yang ukurannya masih di bawah dua ruas jari relatif lebih mampu bertahan hidup. Meski demikian, jumlah ikan yang selamat terus berkurang seiring kondisi perairan yang belum kembali normal.
Menurut Langgeng, fenomena belerang naik dan upwelling sebenarnya hampir selalu terjadi setiap tahun di Telaga Ngebel. Namun, umumnya peristiwa itu baru muncul pada Agustus sehingga petani masih memiliki waktu untuk mempersiapkan panen. Tahun ini, fenomena datang lebih awal sehingga banyak ikan yang belum memasuki usia panen dan petani tidak sempat melakukan langkah antisipasi secara maksimal.
“Biasanya upwelling terjadi sekitar Agustus, sehingga kami sudah bersiap memanen ikan. Tahun ini datang lebih cepat, jadi kami benar-benar kelabakan. Sempat kami coba mengocor keramba dengan air untuk menambah oksigen, tetapi hasilnya tidak maksimal. Sekarang ikan yang tersisa di keramba saya tinggal sekitar 20 persen dan ukurannya masih kecil. Kami hanya berharap ikan yang masih hidup bisa bertahan sampai kondisi telaga kembali normal,” pungkasnya.
Para petani keramba berharap fenomena upwelling segera berakhir agar kualitas perairan Telaga Ngebel kembali membaik. Dengan begitu, sisa ikan yang masih bertahan dapat tumbuh normal dan kerugian yang dialami petani tidak semakin besar.



