
Tercatat Dalam 6 bulan 183 Bencana Tanah Longsor (Foto: Yudi)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo mencatat sebanyak 183 kejadian bencana terjadi selama periode Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, bencana tanah longsor menjadi kejadian yang paling mendominasi, terutama di wilayah selatan dan timur Ponorogo.
Sekretaris BPBD Ponorogo, Ismoyo, mengatakan dari total 183 kejadian bencana, sebanyak 101 di antaranya merupakan tanah longsor. Selain itu, tercatat 42 kejadian banjir, 37 kejadian cuaca ekstrem, dua kali gempa bumi, serta satu kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Selama Januari hingga Juni 2026 kami mencatat ada 183 kejadian bencana. Yang paling banyak adalah tanah longsor sebanyak 101 kejadian, kemudian banjir 42 kejadian, cuaca ekstrem 37 kejadian, dua kali gempa bumi, dan satu kejadian kebakaran hutan serta lahan,” ujar Ismoyo.
Ia menjelaskan, Kecamatan Pulung menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tanah longsor terbanyak, yakni mencapai 23 kali. Disusul Kecamatan Slahung dan Ngebel masing-masing 15 kejadian, serta Kecamatan Ngrayun sebanyak 13 kejadian.
“Untuk kejadian longsor, Kecamatan Pulung menjadi wilayah yang paling sering terdampak dengan 23 kejadian. Berikutnya Slahung dan Ngebel masing-masing 15 kejadian, kemudian Ngrayun sebanyak 13 kejadian,” katanya.
Sementara itu, untuk bencana banjir, Kecamatan Jambon menjadi wilayah yang paling sering terdampak dengan tujuh kejadian selama enam bulan pertama tahun ini.
Menurut Ismoyo, data tersebut akan menjadi dasar bagi BPBD dalam menyusun langkah mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, khususnya di daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Rekapitulasi data ini akan menjadi acuan kami dalam menentukan langkah mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki potensi bencana tinggi,” jelasnya.
Selain itu, BPBD Ponorogo akan terus memperkuat edukasi kebencanaan kepada masyarakat serta mengembangkan program Desa Tangguh Bencana (Destana) agar dampak dan kerugian akibat bencana dapat diminimalkan.
“Kami juga akan terus mendorong edukasi kepada masyarakat dan memperkuat program Desa Tangguh Bencana agar masyarakat semakin siap menghadapi potensi bencana di wilayahnya masing-masing,” pungkas Ismoyo.



