
proses pendaftaran sman 1 ponorogo jalur prestasi non-akademik (foto: Yudi)
Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi nonakademik di SMAN 1 Ponorogo menjadi sorotan sejumlah orang tua calon siswa. Mereka menilai proses seleksi perlu lebih transparan karena muncul perbedaan hasil penerimaan terhadap calon siswa yang sama-sama memiliki prestasi.
Salah satu wali murid, Gaguk Hermanto, mengaku dapat menerima jika anaknya tidak diterima di SMAN 1 Ponorogo. Namun, dirinya mempertanyakan apakah proses seleksi benar-benar telah mengacu pada petunjuk teknis (juknis) yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Saya sebenarnya bisa menerima kalau anak saya tidak diterima. Yang ingin saya pahami adalah apakah proses seleksinya sudah benar-benar sesuai juknis yang berlaku,” ujar Gaguk Hermanto.
Menurut Gaguk, di masyarakat berkembang informasi mengenai adanya calon siswa yang diterima menggunakan piagam juara harapan. Padahal, menurutnya kategori tersebut tidak tercantum dalam juknis penilaian jalur prestasi nonakademik.
“Kalau memang ada mekanisme penilaian tertentu, kami berharap dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan persepsi negatif di masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti proses validasi sertifikat prestasi yang dinilai berpotensi menimbulkan kebingungan, khususnya bagi siswa dari madrasah maupun organisasi di luar kewenangan Cabang Dinas Pendidikan.
“Bagi saya ini bukan sekadar soal diterima atau tidak diterima. Dunia pendidikan harus memberi contoh keadilan dan kepastian aturan kepada anak-anak,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Panitia SPMB SMAN 1 Ponorogo, Yudo Seputro, membenarkan bahwa sejumlah wali murid datang ke sekolah untuk meminta penjelasan terkait hasil seleksi jalur prestasi nonakademik.
“Memang ada beberapa wali murid yang datang untuk meminta penjelasan mengapa anak yang memiliki nilai prestasi tinggi justru tidak lolos seleksi,” ujar Yudo.
Menurutnya, penilaian pada jalur prestasi nonakademik tidak semata-mata didasarkan pada tingginya nilai prestasi yang dimiliki calon siswa. Sekolah juga mempertimbangkan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik sesuai kondisi yang ada di SMAN 1 Ponorogo.
“Kalau sekolah sudah memiliki banyak atlet dari cabang tertentu, maka kesempatan bisa diberikan kepada calon siswa yang memiliki kemampuan di bidang lain yang belum dimiliki sekolah,” jelasnya.
Karena itu, peserta dengan nilai prestasi lebih rendah tetap berpeluang diterima apabila keahliannya sesuai kebutuhan sekolah.
“Prinsip yang kami gunakan bukan semata-mata mengejar skor tertinggi, tetapi menyesuaikan kebutuhan sekolah dalam pembinaan prestasi nonakademik agar potensi siswa lebih beragam,” pungkas Yudo.



