
Sedikitnya enam rumah dilaporkan rusak akibat bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, pada Minggu siang, 5 April 2026. Enam rumah tersebut dihuni sekitar 18 kepala keluarga (KK).
Kepala Desa Banaran, Sarnu, saat dikonfirmasi mengungkapkan bahwa tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun, kerugian materi diperkirakan mencapai jutaan rupiah. Kerusakan paling parah dialami rumah milik Sugeng Prianto dan Jamal Harsono, warga Dukuh Krajan, Banaran.
“Ada enam rumah yang terdampak dan dihuni sekitar 18 KK. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah,” ujar Sarnu.
Ia menjelaskan, longsor terjadi karena saluran air di samping rumah warga tidak mampu menampung debit air hujan. Akibatnya, saluran tersumbat dan tebing di sisi rumah warga longsor.
“Saluran air di samping rumah warga tidak bisa menampung debit air, sehingga tersumbat dan menyebabkan tebing di samping rumah longsor,” jelasnya.
Tebing yang longsor memiliki lebar sekitar 5 meter dengan ketinggian kurang lebih 10 meter. Pemerintah Desa Banaran bersama warga langsung melakukan kerja bakti membersihkan material longsor sekaligus mengedukasi masyarakat agar lebih waspada jika hujan deras turun dalam durasi lama.
Sementara itu, warga setempat, Wahrudin, mengatakan longsor dipicu hujan deras selama hampir tiga jam. Menurutnya, warga sempat trauma mengingat Banaran pernah diterjang longsor beberapa tahun silam.
“Hujan deras hampir tiga jam membuat warga khawatir, karena kami masih trauma dengan longsor yang pernah terjadi beberapa tahun lalu,” kata Wahrudin.
Ia menambahkan, ketika hujan deras kembali turun, warga memilih mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman. Selain merusak rumah, longsor juga menyebabkan ladang warga dan akses jalan tertutup lumpur.
“Kalau hujan deras, warga langsung mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman. Selain rumah, ladang dan jalan juga sempat tertutup lumpur,” pungkasnya.



