
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo merilis sebanyak 26 kejadian bencana dalam lima hari pertama April 2026. Mayoritas laporan yang masuk berupa tanah longsor, dengan wilayah Kecamatan Pulung menjadi daerah paling banyak terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan sejak 1 hingga 5 April pihaknya menerima 26 laporan bencana. Dari jumlah tersebut, hanya satu kejadian berupa banjir yang terjadi di Desa Caluk, Kecamatan Slahung, sementara sisanya merupakan longsor.
“Sejak 1 sampai 5 April ada 26 laporan bencana yang masuk. Hanya satu kejadian banjir di Desa Caluk, Slahung, sedangkan selebihnya merupakan tanah longsor,” ujar Masun.
Menurutnya, puncak kejadian terjadi pada 5 April dengan total 20 laporan bencana hanya dalam satu hari. Kecamatan Pulung menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi.
“Yang paling banyak terdampak memang Kecamatan Pulung. Rinciannya, Desa Banaran ada sembilan kasus longsor, Desa Wagir Kidul tiga kasus, dan Desa Bekiring satu kasus,” jelasnya.
Selain Pulung, bencana longsor juga terjadi di sejumlah kecamatan lain. Di Kecamatan Ngebel tercatat enam kasus, Kecamatan Ngrayun empat kasus, dan Kecamatan Pudak dua kasus.
Masun mengungkapkan tingginya frekuensi bencana tersebut sejalan dengan peringatan dini cuaca ekstrem yang telah dirilis BMKG untuk wilayah Ponorogo sejak awal April.
“Cuaca ekstrem memang sudah diperingatkan sejak awal April, sehingga kami terus meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama,” tambahnya.
Dari seluruh kejadian, longsor di Desa Banaran menjadi perhatian khusus karena dampaknya cukup serius. Material longsor memutus akses jalan warga dan menyebabkan tiga rumah dalam kondisi terisolasi.
Menurut Masun, kondisi di wilayah tersebut sebenarnya bukan hal baru karena sejak 2021 Desa Banaran memang masuk kawasan rawan longsor dan beberapa kali mengalami kejadian serupa di titik yang sama.
“Berdasarkan kajian PVMBG, sedikitnya ada 17 rumah di kawasan tersebut yang masuk kategori rawan dan direkomendasikan untuk direlokasi,” tegasnya.
Sementara itu, untuk total kerugian akibat rangkaian bencana tersebut, BPBD Ponorogo masih melakukan pendataan jumlah pasti rumah dan fasilitas yang terdampak.



