
Sebanyak 44 peserta balon udara tanpa awak memeriahkan Reog Balon Carnival yang digelar di Sirkuit Motocross Jenangan, Ponorogo, Ahad (29/3/2026). Antusiasme peserta dan penonton membludak hingga menyebabkan kemacetan di sekitar lokasi.
Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo, mengatakan jumlah peserta tahun ini melampaui target awal. Untuk kategori lokal, peserta mencapai lebih dari 24 tim, meski sebelumnya hanya ditargetkan satu perwakilan tiap kecamatan.
Sementara itu, sebanyak 20 peserta dari luar daerah, khususnya Wonosobo, turut diundang untuk memeriahkan festival tersebut.
AKBP Andin menjelaskan, perbedaan utama antara balon udara ilegal dengan yang ditampilkan dalam festival ini terletak pada aspek keamanan. Dalam Reog Balon Carnival, peserta wajib mengikuti aturan ketat sehingga lebih aman dan terkendali.
“Selain ukuran balon, penilaian juga meliputi estetika, tema, dan kekompakan tim. Ini jadi ruang kreativitas masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejak adanya festival ini, penerbangan balon udara liar yang disertai petasan di Ponorogo berhasil ditekan hingga 80 persen.
Melihat tingginya antusiasme, pihaknya berencana menggelar acara ini selama dua hari pada tahun depan. Hari pertama akan diikuti peserta lokal, sedangkan hari kedua untuk peserta luar daerah.
Dalam penilaian lomba, panitia menghadirkan dewan juri dari Wonosobo, daerah yang dikenal memiliki tradisi balon udara.
AKBP Andin menegaskan, festival ini menjadi solusi atas tradisi menerbangkan balon saat Lebaran yang sebelumnya kerap dilakukan secara liar dan berisiko membahayakan keselamatan penerbangan serta memicu kebakaran.
Sementara itu, pantauan di lapangan menunjukkan ribuan warga memadati area acara. Bahkan, sejumlah ruas jalan menuju Sirkuit Motocross Jenangan mengalami kemacetan panjang akibat tingginya jumlah pengunjung.



