
Guna menyediakan cadangan air bersih saat musim kemarau, Pemerintah Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Ponorogo gencar mengkampanyekan gerakan menabung air kepada masyarakat sejak setahun terakhir.
Metode yang digunakan tidak hanya melalui pembuatan lubang resapan biopori, tetapi juga memanfaatkan sumur kawak atau sumur tua yang dulunya digunakan warga untuk mengambil air dan kini difungsikan sebagai tempat penyimpanan air.
Kepala Desa Ngunut, Siti Kotijah mengatakan, air hujan yang turun dari atap rumah dimodifikasi menggunakan pipa pralon kemudian dialirkan ke sumur-sumur tua yang ada di lingkungan warga.
“Air hujan dari genting kami modifikasi menggunakan pralon lalu dialirkan ke sumur-sumur kawak. Kebetulan di desa kami masih banyak sumur tua yang sudah tidak terpakai sehingga bisa dimanfaatkan kembali untuk menabung air,” ujar Siti Kotijah.
Ia menjelaskan, program tersebut juga mendapat dukungan dari masyarakat dan telah diperkuat melalui peraturan desa (Perdes). Salah satu ketentuannya, setiap calon pengantin diwajibkan membuat dua lubang biopori super jumbo sebagai bentuk komitmen bersama agar program menabung air dapat terus berkelanjutan.
“Sudah ada Perdes-nya. Bahkan bagi calon pengantin diwajibkan menanam dua biopori super jumbo agar gerakan menabung air ini terus berjalan,” jelasnya.
Menurut Siti Kotijah, persoalan kekeringan saat ini menjadi isu global sehingga perlu adanya gerakan bersama untuk menjaga ketersediaan air di masa mendatang.
Program menabung air tersebut juga mendapat dukungan dari Menabung Air Foundation (MAF) bersama Maesa Group. Kegiatan yang berlangsung pada Agustus hingga November 2025 itu bertujuan mendorong konservasi air, pengelolaan sampah organik, sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.



