
Kondisi rumah pasca leadakan, polisi menyisir lokasi untuk memastikan keamanan. (Foto/Yudi(
Sedikitnya enam saksi telah diperiksa terkait kasus ledakan bahan mercon di Dukuh Cuwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, yang menewaskan dua orang.
Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo, mengakui ada enam orang yang telah diperiksa sebagai saksi. Mereka berasal dari pihak keluarga, warga sekitar, hingga perangkat desa.
Menurutnya, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh tim Laboratorium Forensik Polda serta Gegana Brimob Polda Jawa Timur, bahan yang meledak merupakan serbuk untuk membuat petasan atau bahan peledak dengan daya ledak rendah.
Serbuk petasan tersebut sangat mudah bereaksi apabila terkena gesekan, panas, maupun percikan api. Bahkan bahan petasan dikenal sangat sensitif dan dapat memicu ledakan hanya karena percikan api kecil.
Dari hasil penyelidikan sementara, serbuk petasan yang meledak diduga milik RF yang juga menjadi korban meninggal dunia di lokasi kejadian. RF diketahui mengajak AF untuk meracik bahan petasan karena dianggap lebih ahli.
Keduanya meracik serbuk petasan di teras rumah menggunakan wadah panci aluminium dengan tujuan mengisi gulungan petasan agar menjadi mercon siap ledak.
Polisi juga menemukan indikasi bahwa keduanya meracik bahan tersebut sambil merokok. Diduga percikan api dari rokok mengenai serbuk petasan sehingga memicu ledakan. Di lokasi kejadian juga ditemukan barang bukti berupa korek api.
Saat kejadian, kata AKBP Andin, tiga rekan mereka yang masih berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH) berada di dalam rumah. Namun dari hasil penyelidikan sementara, ketiganya hanya menyaksikan dan belum ditemukan keterlibatan dalam kepemilikan maupun pengadaan bahan petasan.
Sementara itu, seorang saksi berinisial HA yang datang ke lokasi untuk mengembalikan kunci sepeda motor kepada RF turut menjadi korban luka akibat ledakan tersebut.
Dalam peristiwa itu, RF meninggal dunia di lokasi kejadian. Sedangkan AF sempat dilarikan ke RSU Bantarangin Somoroto sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr Harjono Ponorogo, namun nyawanya tidak tertolong.
Polisi juga menyebut lokasi ledakan tersebut kerap dijadikan tempat berkumpul anak muda untuk merakit petasan menjelang Lebaran.
AKBP Andin menambahkan, dampak ledakan bisa jauh lebih fatal apabila proses peracikan dilakukan di dalam rumah. Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat Ponorogo agar tidak lagi membuat maupun menyalakan petasan demi menjaga keselamatan bersama.



