
Libur panjang sekolah dimanfaatkan banyak orang tua di Ponorogo untuk mengkhitankan anak laki-lakinya. Momen liburan dinilai tepat karena tidak mengganggu aktivitas sekolah dan memberikan waktu cukup untuk proses pemulihan.
Nanang, salah satu mantri khitan di kawasan Kota Ponorogo, menyebutkan terjadi lonjakan jumlah anak yang dikhitan selama liburan ini.
“Selama libur sekolah ini saya menangani lebih dari 50 anak. Padahal saat liburan sebelumnya hanya sekitar 25 anak saja,” ungkap Nanang, Minggu (7/7).
Mayoritas anak yang dikhitan berusia sekolah dasar. Namun, ada juga anak usia bayi dan balita yang menjalani khitan atas indikasi medis, seperti fimosis atau penyempitan kulup.
“Beberapa orang tua memilih mengkhitankan anak sejak dini untuk menghindari risiko fimosis. Selain itu, proses penyembuhan pada usia dini juga cenderung lebih cepat,” tambahnya.
Dengan kemajuan teknologi medis saat ini, metode khitan pun semakin beragam. Mulai dari metode konvensional, laser, hingga klamp, yang menawarkan proses lebih aman, nyaman, dan minim trauma bagi anak-anak.
“Sekarang banyak metode yang membuat anak-anak tidak takut lagi disunat. Prosesnya cepat, aman, dan penyembuhannya juga relatif singkat,” jelas Nanang.



