
Dagangan di Beli dengan Uang Mainan (Foto: Ilustrasi)
Seorang lansia pemilik toko kelontong di Dukuh Sisir, Desa Kesugihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, menjadi korban penipuan bermodus uang mainan. Pelaku memanfaatkan kondisi korban yang tidak bisa membaca dengan membayar belanja menggunakan uang mainan. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami kerugian sekitar Rp350.000. Aksi pelaku bahkan sempat terekam kamera CCTV dan kini videonya telah beredar di media sosial.
Cucu korban, Hepi, mengatakan pelaku datang ke toko neneknya sebanyak dua kali dalam sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Menurutnya, pelaku memiliki ciri-ciri bertubuh tinggi, berambut gondrong, dan memiliki tato di tangan. Rekaman CCTV sengaja diunggah ke media sosial agar masyarakat lebih waspada apabila menjumpai orang dengan ciri-ciri tersebut.
“Pelaku datang dua kali, pagi dan sore. Nenek saya tidak curiga karena memang tidak bisa membaca, sehingga menerima begitu saja uang yang diberikan pelaku. Rekaman CCTV sudah saya unggah ke media sosial supaya masyarakat lebih berhati-hati jika bertemu orang dengan ciri-ciri seperti itu,” ujar Hepi.
Hepi menjelaskan, pelaku menggunakan uang mainan pecahan dua lembar Rp100.000 dan tiga lembar Rp50.000 untuk membeli rokok, jajanan, serta minuman di toko milik neneknya. Korban baru menyadari menjadi korban penipuan setelah pelaku pergi. Saat itu, neneknya merasa tekstur uang yang diterima berbeda dengan uang asli, kemudian meminta Hepi untuk memeriksanya.
Dari hasil pemeriksaan, uang tersebut dipastikan merupakan uang mainan yang menyerupai uang asli. Berdasarkan rekaman CCTV, baik Hepi maupun neneknya tidak mengenali pelaku. Namun, ia menduga pelaku masih berasal dari wilayah Kecamatan Pulung karena tampak cukup mengenal lokasi sekitar toko.
“Kerugian memang tidak terlalu besar, tetapi kami kasihan karena yang menjadi korban adalah nenek yang sudah lanjut usia. Semoga rekaman CCTV ini bisa membantu warga mengenali pelaku dan mencegah kejadian serupa terulang di tempat lain,” katanya.
Hepi berharap masyarakat, khususnya pemilik warung atau toko yang memiliki anggota keluarga lanjut usia, lebih berhati-hati saat menerima pembayaran dari orang yang tidak dikenal. Ia juga mengimbau agar setiap transaksi diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan uang yang diterima benar-benar asli.



