
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pelita Harapan, Kelurahan Surodikraman, Kabupaten Ponorogo, mulai mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus menutup biaya operasional TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Langkah ini dilakukan karena budidaya larva lalat dinilai cukup menguntungkan. Selain mampu mengurai sampah organik, magot juga memiliki nilai ekonomi sebagai sumber protein untuk pakan ikan lele maupun unggas.
Joko, pengelola KSM Pelita Harapan, mengungkapkan ide tersebut muncul dari persoalan biaya operasional yang selama ini membebani pengelolaan TPS3R.
“Awalnya kami pusing dengan biaya operasional. Selama ini pengelolaan sampah TPS3R tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemasukan dari iuran warga dan hasil pilah sampah setiap bulan hanya sekitar Rp800 ribu. Sementara kebutuhan operasional mencapai Rp1,5 juta per bulan.
“Dari situ kami berpikir keras bagaimana TPS3R tetap berjalan tapi tidak terus merugi. Akhirnya kami mencoba budidaya maggot,” imbuhnya.
Dengan pendampingan tenaga berpengalaman, budidaya tersebut kini mulai berkembang. Dari awalnya hanya satu kolam, kini telah bertambah menjadi 12 kolam maggot.
Meski belum menghasilkan keuntungan secara finansial, keberadaan magot sudah memberikan dampak signifikan dalam pengurangan sampah.
“Sejauh ini memang belum menghasilkan, tapi setidaknya bisa mengurai sampah organik hingga 3 kuintal setiap hari,” jelas Joko.
Ke depan, pihaknya berencana menjalin kerja sama dengan para peternak untuk memasarkan maggot sebagai pakan ternak.
Dalam proses pengembangannya, Joko mengakui tidak berjalan mulus. Budidaya maggot sempat mendapat kritik dari sebagian warga, terutama terkait potensi bau.
“Memang sempat ada kritik dari warga, terutama soal bau. Tapi kami tidak anti masukan, dan akan kami atasi dengan rutin melakukan penyemprotan,” tutupnya.



