
Foto : ilustrasi
Aksi penipuan berkedok layanan kesehatan masih terjadi di wilayah Desa Kalimalang, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo. Kali ini sejumlah warga mengaku didatangi orang yang mengaku sebagai petugas kesehatan yang menawarkan penjualan bubuk abate serta layanan cek tensi darah.
Kepala Desa Kalimalang Riyadi mengungkapkan, sejauh ini belum ada warganya yang menjadi korban dari penjualan bubuk abate tersebut. Hal ini karena warga sudah lebih waspada setelah sebelumnya terjadi kasus penipuan yang merugikan warga cukup besar.
Menurut Riyadi, setelah adanya kejadian warga yang kehilangan uang dan emas akibat pelaku yang menyamar sebagai terapis kesehatan, masyarakat kini lebih berhati-hati. Setiap ada orang asing yang datang menawarkan sesuatu langsung dikonfirmasi kepada pihak pemerintah desa.
“Sejauh ini belum ada warga yang menjadi korban. Warga sekarang kalau ada orang datang menawarkan bubuk abate atau layanan kesehatan langsung konfirmasi ke kami,” kata Riyadi.
Ia menegaskan pihaknya juga melarang warga membeli bubuk abate dari orang yang tidak jelas asal-usulnya, karena di desa maupun di puskesmas sudah disediakan secara gratis.
“Kami sudah sampaikan ke warga agar tidak membeli bubuk abate dari orang yang tidak jelas. Di desa dan di puskesmas sudah tersedia secara gratis,” jelasnya.
Riyadi mengaku geram karena orang yang menawarkan bubuk abate tersebut mencatut nama pemerintah desa dengan mengaku telah mendapatkan izin.
“Mereka mengaku sudah mendapat izin dari pemerintah desa, padahal itu tidak benar,” tegasnya.
Pihaknya juga terus mengimbau warga agar selalu waspada terhadap berbagai modus penipuan melalui grup WhatsApp RT/RW maupun saat pertemuan warga seperti arisan.
Sebelumnya, warga Desa Kalimalang sempat menjadi korban penipuan oleh pelaku yang menyamar sebagai terapis kesehatan. Dalam kejadian tersebut, uang tunai sekitar Rp10 juta dan perhiasan emas seberat 33 gram milik korban raib digondol pelaku.
Korban merupakan pasangan suami istri lanjut usia yang didatangi dua laki-laki dan dua perempuan dengan dalih menawarkan terapi kesehatan. Saat proses terapi dengan menempelkan koyo di telapak kaki korban, sebagian pelaku lainnya bergerilya di dalam rumah dan menguras harta milik korban.



