
Dubai menjadi salah satu wilayah yang terdampak konflik ketegangan Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Iran dikabarkan meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer yang berada di Dubai.
Serangan tersebut membuat suasana kota yang sebelumnya tenang berubah mencekam. Dentuman keras dan gemuruh di langit terdengar sejak Sabtu, 28 Februari 2026, sekitar pukul 13.30 waktu setempat hingga malam hari.
Kondisi ini turut dirasakan Farida, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Slahung, Ponorogo, yang telah 16 tahun bekerja di Dubai. Kepada Gema Surya, Farida mengaku baru pertama kali merasakan situasi mencekam akibat serangan rudal.
“Suara ledakan terdengar jelas, bahkan sampai malam. Hari Senin pun masih terdengar gemuruh di langit,” ujarnya.
Ia mengaku sempat merasa cemas dan ketakutan, terlebih setelah menerima pesan peringatan dari pemerintah setempat melalui ponsel agar segera menyelamatkan diri dan tetap berada di tempat aman.
“Langsung panik waktu dapat pesan peringatan,” katanya.
Beruntung, majikannya berinisiatif menyiapkan ruang khusus untuk berlindung. Meski sempit, ruangan tersebut dinilai cukup aman jika sewaktu-waktu kembali terjadi ledakan.
Hingga kini, otoritas setempat masih membatasi aktivitas warga di luar rumah kecuali untuk kepentingan mendesak. Sekolah diliburkan dan sebagian besar pekerja kantoran menjalankan sistem work from home (WFH).
Meski suasana masih diliputi kecemasan, Farida mengaku belum berniat pulang ke kampung halaman karena pekerjaannya dan kehidupannya telah lama berada di Dubai.



