
Angka kejadian bencana di Kabupaten Ponorogo sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, jumlah bencana turun hingga 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 186 kejadian bencana, sementara pada tahun 2024 jumlahnya mencapai 347 kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, membenarkan adanya penurunan tersebut. Menurutnya, penurunan terutama dipicu berkurangnya kejadian kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
“Memang benar, kejadian bencana di tahun 2025 turun sekitar 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini karena kejadian kekeringan dan kebakaran lahan menurun cukup signifikan,” ujar Masun.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi karakter musim kemarau 2025 yang bersifat kering basah. Meski memasuki musim kemarau, hujan dengan intensitas ringan masih kerap terjadi sehingga sumber mata air tetap terjaga.
“Tahun 2025 kemaraunya bersifat kering basah, jadi masih ada hujan meskipun ringan. Ini membuat sumber mata air masih tersedia,” jelasnya.
Meski secara keseluruhan menurun, Masun menyebut jenis bencana yang paling dominan di tahun 2025 adalah tanah longsor dengan total 100 kejadian. Selanjutnya disusul banjir sebanyak 47 kejadian dan cuaca ekstrem 29 kejadian.
“Untuk bencana yang paling banyak terjadi masih tanah longsor, kemudian banjir dan cuaca ekstrem,” katanya.
Selain itu, BPBD Ponorogo juga mencatat kebakaran hutan dan lahan sebanyak tujuh kejadian, kekeringan dua kejadian, serta kebakaran gedung dan permukiman satu kejadian.
Masun menambahkan, kejadian bencana tersebar merata di berbagai kecamatan. Namun, Kecamatan Pulung dan Ngrayun tercatat sebagai wilayah dengan kejadian tanah longsor terbanyak.
“Untuk tanah longsor paling banyak di Pulung dan Ngrayun. Sedangkan banjir banyak terjadi di Balong, Bungkal, Jambon, dan Kauman. Sementara cuaca ekstrem hampir terjadi di seluruh kecamatan,” ungkapnya.
Mengakhiri keterangannya, Masun mengimbau masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, khususnya saat musim hujan, guna meminimalkan risiko dan dampak bencana.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan siap siaga, terutama saat musim hujan, agar dampak bencana bisa diminimalkan,” pungkasnya.



