
Maling Ambil Kotak Amal dan Tabung Gas (Foto: Jumiati)
Aksi pencurian kembali terjadi di Kabupaten Ponorogo. Kali ini, sebuah warung kopi di Jalan Sekar Putih, Kelurahan Tonatan, menjadi sasaran maling. Akibat kejadian tersebut, pemilik warung, Jumiati, kehilangan kotak amal, uang tunai, serta satu tabung gas elpiji 3 kilogram.
Jumiati mengatakan aksi pencurian terjadi selama dua hari berturut-turut. Pada Senin, 6 Juli 2026, pelaku membawa kabur kotak amal yang dititipkan di warung miliknya. Setelah mengambil uang di dalamnya, kotak amal tersebut dibuang di belakang warung.
“Senin kemarin pelaku mengambil kotak amal yang dititipkan di warung. Uangnya diambil, sedangkan kotaknya dibuang di belakang warung. Pelaku masuk dengan cara melubangi dinding warung yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu,” ujar Jumiati.
Keesokan harinya, Selasa pagi, 7 Juli 2026, pelaku kembali beraksi. Kali ini, uang yang berada di dalam laci serta satu tabung gas elpiji 3 kilogram ikut digondol setelah pelaku masuk melalui lubang yang sama.
“Besok paginya saya kehilangan uang yang ada di laci dan satu tabung gas tiga kilogram. Setelah saya cek, pelaku masuk lagi lewat lubang yang sama di dinding warung,” katanya.
Jumiati mengaku peristiwa pencurian di warungnya bukan kali pertama terjadi. Sejak membuka usaha, warung miliknya sudah lima kali menjadi sasaran pencurian dengan kerugian mencapai ratusan ribu rupiah.
“Sejak saya buka warung, sudah lima kali kemasukan maling. Yang diambil biasanya uang dan tabung gas. Kalau dihitung-hitung, total kerugiannya sudah mencapai ratusan ribu rupiah,” ungkapnya.
Menurut Jumiati, pelaku diduga masih berusia muda atau memiliki postur tubuh kecil karena lubang yang dibuat pada dinding gedek cukup sempit. Ia memperkirakan pelaku beraksi pada malam hari setelah mengetahui kebiasaan warung yang baru buka usai salat Subuh dan tutup sekitar pukul 13.00 WIB.
“Saya menduga pelakunya masih di bawah umur atau kalau orang dewasa badannya kecil, karena lubang di gedek itu sempit. Kemungkinan mereka beraksi malam hari dan sudah tahu kebiasaan saya membuka warung setelah salat Subuh serta tutup sekitar jam satu siang,” jelasnya.
Meski warungnya berada di kawasan yang dekat dengan sejumlah perkantoran, seperti Kantor BPBD dan Kantor Imigrasi Ponorogo, Jumiati mengaku belum berencana melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Ia memilih meningkatkan keamanan di sekitar warung agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Sementara ini saya belum berniat melapor ke polisi. Saya akan lebih fokus meningkatkan keamanan warung supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” pungkasnya.



