
Guna mengantisipasi potensi gerakan tanah susulan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ponorogo bersama Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melakukan pemantauan intensif di sejumlah lokasi rawan longsor di Ponorogo, yakni Desa Banaran, Kecamatan Pulung dan Desa Talun, Kecamatan Ngebel.
Tim gabungan yang terdiri dari empat personel PVMBG dan lima personel BPBD melakukan pengecekan mendalam selama tiga hari. Pemantauan dilakukan melalui pengamatan visual, penelitian struktur tanah hingga pemetaan menggunakan drone.
Sekretaris BPBD Ponorogo, Ismoyo mengatakan, hasil pemantauan di Desa Banaran menunjukkan kondisi tanah cukup keras namun memiliki kontur lembut sehingga memicu munculnya retakan-retakan tanah.
“Tanah di Banaran ini cukup keras, tetapi kontur tanahnya lembut sehingga muncul retakan-retakan yang berpotensi membahayakan,” ujar Ismoyo.
Menurutnya, beberapa waktu lalu sempat terjadi longsor yang menutup badan jalan di wilayah tersebut. Namun berkat kerja bakti warga, material longsoran kini sudah berhasil disingkirkan.
“Beberapa waktu lalu sempat longsor dan menutup jalan, namun sekarang sudah dibersihkan bersama warga,” imbuhnya.
Meski begitu, terdapat tiga rumah di area atas lereng yang masih berpotensi terdampak longsor susulan. BPBD mengimbau masyarakat segera menutup retakan tanah menggunakan tanah biasa agar air hujan tidak masuk ke dalam celah dan memperparah kondisi tanah.
“Kami mengimbau retakan ditutup tanah biasa supaya air hujan tidak masuk ke dalam tanah,” jelasnya.
BPBD juga meminta warga segera mengungsi apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi karena dikhawatirkan memicu pergerakan tanah kembali.
Sementara itu, kondisi di Desa Talun, Kecamatan Ngebel dinilai relatif lebih stabil meski sisa material longsor berupa lumpur dan bebatuan besar masih terlihat di lokasi.
“Untuk di Talun relatif lebih stabil, meskipun material longsor masih ada,” katanya.
Ismoyo menyebut vegetasi atau tanaman di sekitar lokasi masih cukup membantu menahan pergerakan batu-batu besar. Namun demikian, terdapat empat hingga lima rumah yang tetap dalam pengawasan karena berada di titik rawan.
“Vegetasi di lokasi masih mampu menahan pergerakan batu, tetapi ada beberapa rumah yang tetap kami pantau,” ungkapnya.
BPBD Ponorogo juga menekankan pentingnya reboisasi di lahan bekas longsor sebagai solusi jangka panjang guna memperkuat struktur tanah dan mencegah longsor susulan.
“Meskipun saat ini pergerakan tanah cenderung berhenti karena curah hujan minim, kedua wilayah tetap dalam pengawasan ketat,” pungkas Ismoyo.



