
Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat, khususnya generasi muda, kini lebih terbuka untuk mencari bantuan layanan psikologis dan tidak lagi menganggapnya sebagai hal yang tabu.
Kondisi tersebut disampaikan dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Andri Nurdiyanasari, Sp.KJ. Ia mengungkapkan, jumlah pasien yang datang ke tempat praktiknya mengalami kenaikan hingga 20 persen sejak tahun 2025.
“Dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2025, jumlah pasien yang datang ke tempat praktik saya meningkat sekitar 20 persen. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental semakin baik,” ujar dr. Andri.
Menurutnya, rata-rata pasien yang datang berusia muda, mulai 14 hingga 24 tahun, atau setara usia SMP hingga mahasiswa. Ia mengakui, sebelumnya masyarakat masih enggan berkonsultasi ke psikiater atau psikolog karena takut dianggap mengalami gangguan jiwa berat.
“Dulu banyak yang takut datang ke psikiater karena khawatir dicap gila. Sekarang pola pikir itu mulai berubah. Akses layanan psikologis yang semakin terbuka juga mempermudah mereka untuk berkonsultasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian pasien awalnya hanya berkonsultasi melalui pesan singkat atau layanan daring sebelum akhirnya memberanikan diri datang langsung untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Biasanya mereka mulai dengan chat online terlebih dahulu. Setelah merasa nyaman, baru datang langsung ke tempat praktik untuk konsultasi lanjutan,” tambahnya.
Menariknya, dr. Andri menyebutkan bahwa sebagian besar permasalahan yang dibawa pasien tergolong ringan. Mulai dari persoalan pendidikan, stres menghadapi skripsi, menjadi korban perundungan, hingga sekadar ingin bercerita.
“Banyak yang datang sebenarnya hanya membawa masalah ringan, seperti stres karena tugas kuliah, skripsi, mengalami bullying, atau ingin curhat. Mereka merasa kesulitan berkomunikasi dengan keluarga, sehingga memilih mencari bantuan profesional,” ungkapnya.
Namun demikian, untuk kasus yang lebih berat, pasien umumnya datang dengan pendampingan keluarga.
“Kalau kasusnya cukup berat, biasanya mereka didampingi oleh keluarga saat datang berkonsultasi,” pungkas dr. Andri.



