
Masyarakat menggunakan jembatan gantung darurat untuk menyeberang. (Foto/Yudi)
Jembatan sepanjang 70 meter dengan lebar 2,7 meter yang melintang di Sungai Jabak tepatnya di Dusun Purworejo Desa Gedangan Kecamatan Ngrayun, putus akibat diterjang banjir pada 2 Januari 2026. Putusnya jembatan tersebut membuat ratusan warga terisolasi karena akses jalan satu-satunya tidak lagi bisa dilalui.
Sebagai upaya darurat, masyarakat setempat kemudian bergotong royong membangun jembatan gantung sederhana sepanjang sekitar 40 meter. Jembatan darurat itu dibuat secara swadaya dengan memanfaatkan tali baja, kayu jati, serta besi bekas.
Salah seorang pelajar, Riski Kurniawan warga Dusun Purworejo, mengaku setiap hari harus melewati jembatan gantung tersebut untuk berangkat ke sekolah. Saat ini, Riski tercatat sebagai siswa kelas XII di SMAN 1 Bodag.
Menurutnya, sejak TK dirinya bersekolah di Trenggalek karena sekolah terdekat memang berada di sana. Saat ini dirinya duduk di kelas XII SMA. Sejak jembatan ambrol, saat berangkat dan pulang sekolah ia harus melewati jembatan gantung meskipun merasa sangat takut.
Jembatan gantung tersebut kini menjadi satu-satunya akses vital yang menghubungkan warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, dengan Dusun Pegat, Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Jalur ini merupakan akses tercepat bagi warga untuk bersekolah, bekerja, hingga menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Hal senada disampaikan Suyanto, salah seorang warga setempat. Ia mengungkapkan jembatan tersebut merupakan akses utama dan terdekat bagi warga untuk menuju pusat pendidikan, perekonomian, hingga layanan kesehatan.
Menurutnya, jembatan awalnya dibangun secara swadaya pada 2010 menggunakan anyaman bambu. Pada 2014, jembatan diperbarui dengan konstruksi beton yang juga merupakan hasil swadaya masyarakat. Namun pada awal Januari 2026 kembali ambrol akibat banjir.
Suyanto mengungkapkan, selama ini warga lebih sering mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Trenggalek karena jaraknya lebih dekat dibandingkan pusat layanan di Ponorogo. Kondisi darurat bahkan kerap memaksa warga menggendong orang sakit menyusuri aliran sungai.
Setiap hari, jumlah warga yang melintasi jembatan gantung darurat tersebut diperkirakan mencapai 30 hingga 50 orang. Pada hari tertentu jumlahnya bisa melonjak hingga sekitar 100 orang. Berdasarkan informasi, jumlah warga Dusun Purworejo mencapai sekitar 700 jiwa.
Suyanto berharap Pemerintah Kabupaten Ponorogo memberi perhatian serius terhadap kondisi infrastruktur di wilayah perbatasan antar kabupaten agar akses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat tetap terjamin.



