
Masih ditemukannya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Ponorogo yang terpaksa dikurung maupun dipasung karena dianggap membahayakan, memunculkan keprihatinan dari Rama Philip, pengelola Panti Dhuafa Lansia Jetis.
Pria yang telah puluhan tahun merawat pasien gangguan jiwa itu menilai, ODGJ yang mengamuk kerap kali disebabkan kurangnya perhatian dari keluarga dan lingkungan sekitar.
“Banyak kasus ODGJ mengamuk itu karena kurang perhatian. Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, justru ada yang dikucilkan. Padahal mereka sangat membutuhkan perhatian dan pendampingan,” ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya, komunikasi dari keluarga menjadi kunci utama dalam proses pemulihan.
“ODGJ itu butuh komunikasi yang rutin. Keluarga harus sering mengajak bicara, memberi perhatian, bukan malah menjauh,” jelasnya.
Karena itu, setiap menerima pasien untuk direhabilitasi di panti, pihaknya lebih dulu memberikan edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Yang pertama kami edukasi justru keluarganya dulu. Lingkungan juga perlu diberi pemahaman supaya tidak mengucilkan,” tegas Rama.
Ia menambahkan, selain pengobatan yang tidak boleh terputus, pendekatan rehabilitasi juga sangat penting dalam proses penyembuhan.
“Obat tidak boleh putus. Sekarang hampir semua wilayah sudah ada PKM yang menyediakan layanan obat untuk pasien ODGJ. Tapi kalau sudah diobati dan belum ada perubahan, sebaiknya dibawa ke panti atau rumah sakit jiwa untuk rehabilitasi,” katanya.
Saat ini, Panti Dhuafa Jetis menampung sekitar 120 pasien dengan berbagai kondisi gangguan jiwa.
“Sekarang ada sekitar 120 pasien di sini. Dari ratusan yang sudah kami tangani selama ini, puluhan di antaranya dinyatakan sembuh dan bisa kembali hidup normal di masyarakat,” pungkasnya.



